Harga Minyak Dunia turun pengaruh dari Ekonomi dunia yang sedang lesu

0
406
Harga minyak sempat menguat karena masalah pasokan yang berkurang. Para anggota Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) dan Rusia sepakat untuk mengurangi produksi menjadi 1,2 juta barel/hari.

Selain itu, sanksi AS atas Venuzuela dan Iran juga turut membuat pasokan minyak menurun. Inilah yang menyebabkan harga minyak sedikit terangkat di awal pekan.

Namun sayangnya, akhir pekan harga emas hitam ini masih tetap berkutat di zona merah. Pekan ini, harga minyak jenis Brent untuk pasar Eropa anjlok 0,85% ke posisi US$65,67/barel.

Grafik : Trading View

Sementara minyak jenis lightsweet (WTI) untuk pasar Amerika lebih terperosok dan turun 1,09% ke posisi US$ 56,04/barel.

Meskipun demikian, selama sepekan, harga minyak naik WTI 0,43% dan Brent naik 1,03% secara point-to-point, sedangkan sejak awal tahun, harga si emas hitam ini masih tercatat menguat 23,41% untuk WTI dan 22,19% untuk Brent.
Namun, penguatan harga minyak dunia yang sempat pada pekan ini diyakini pasar tidak akan bertaham lama.

Bagaimana tidak, pasokan produksi minyak Negeri Paman Sam meningkat hingga lebih dari 2 juta barel/hari bahkan sempat menyentuh 12,1 juta barel/hari. Dengan potensi produksi sebesar itu, Amerika bisa menjadi eksportir minyak terbesar di dunia.

Sentimen harga minyak yang akan menurun semakin terbukti, ketika pada akhir pekan harga minyak anjlok, sesaat Amerika, Eropa dan China mengumumkan data perekonomian mereka.

Dilansir Forex Factory, penciptaan lapangan kerja sektor non-pertanian di AS pada periode Februari diumumkan sebanyak 20.000 saja, sangat jauh di bawah konsensus yang sebanyak 180.000. Perekrutan ini merupakan yang terlemah dalam setahun belakangan.

Lebih lanjut, proyeksi pertumbuhan ekonomi Eropa yang minder semakin memperparah keadaan. Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas pertumbuhan Zona Euro mereka menjadi 1,1%, dan ini adalah level pertumbuhan terendah setelah quantitative easing 4 tahun silam, dilansir dari Reuters. ECB juga memutuskan untuk menahan suku bunga acuan mereka di level 0%.

China juga ikutan memberikan sinyal kemerosotan ekonomi. Tidak hanya revisi pertumbuhan ekonomi ke level 6%-6,5%, neraca perdagangan China bulan Februari hanya membukukan surplus US$ 4,12 miliar, terjun bebas dari pembukuan Januari yang menyentuh surplus US$ 39,16 miliar.

Jadi bisa dikatakan akhir pekan ini sepertinya semua indikator ekonomi harus terpuruk. Mulai dari pelemahan IHSG dan rupiah, sampai penurunan harga komoditas batu bara dan pesimisme harga minyak

Sumber : CNBC Indonesia