10 Mei 2019, Team International Investor Club,

Contributor: Prima Akbar

Perang dagang antara US-China telah menimbulkan kembimbangan dan disorientasi pasar global, terutama setelah pengumuman kenaikan tariff dari 10 persen menjadi 25 persen. Salah satu mata uang yang terpengaruh oleh perang dagang ini ialah mata uang Yen dan swiss franc, yang dimana pada mata uang Yen terhadap USD mengalami lonjakan tertinggi dalam tiga bulan terakhir pada tanggal 9 Mei lalu. 

Begitu pula dengan permintaan pasar terhadap Swiss franc melawan mata uang safe haven yang melampau ke titik tertinggi dalam tiga minggu terakhir. Jika hal ini terus terjadi maka tidak dipungkiri, perang dagang antara US-China dapat mengganggu kestabilan ekonomi global.

Adanya rundingan terhadap situasi yang telah berlangsung sejak kebijakan Donald Trump mengenai tariff telah menimbulkan banyaknya indikasi dan kejelasan pasar antara pelaku pasar di China dan US, terutama dengan adanya pergerakan harga dalam pasar yang di pengaruhi oleh turunnya nilai mata uang USD dalam minggu terakhir.

Pelemahan mata uang USD, di lain sisi menguntungkan pasar mata uang EURO pada tanggal malam kemarin. Akan tetapi banyak yang mengganggap momentum ini bersifat semenatara apabila dilihat dari sisi resistensi mata uang EURO terhadap USD. Adapula mata uang yang berisiko terpengaruh oleh situasi pasar dalam sentimen risk-off ialah AUD dan NZD, meskipun, jika dilihat dari pasar harga sudah mulai menunjukkan adanya indikasi perolehan keuntungan pada minggu ini.

Sumber: Trading View

Di pasar Pound sterling, beberapa media melaporkan bahwa negosiasi BREXIT semakin menunjukkan jalan buntu yang menyebabkan penurunan nilai pada mata uang GBP terutama pada negosiasi terakhir dimana PM Theresa May telah didesak untuk menentukan tanggal akhir untuk keputusan keluarnya Britania raya dari Uni-Eropa.

Dalam pasar negeri, eskalasi yang terjadi antara US dan China menjadi peluang Indonesia untuk meningkatkan pangsa ekspor Indonesia, yang dimana neraca perdagangan Indonesia dicatat masih defisit sebesar US$5,18Bn, melebar jauh dari tahun sebelumnya.

Perkembangan pasar yang terdisorientasi telah mengakibatkan ketidakpastian dalam pasar. Hal ini, perlu diperhatikan bagi para pemain pasar untuk senantiasa peka terhadap tiap perubahan yang akan terjadi pada minggu-minggu kedepannya.