PT bank Central Asia Tbk (Kode Emiten: BBCA) belum merencanakan untuk melakukan pemecahan nilai saham atau stock split, meski saat ini harga saham BBCA di Bursa Efek Indonesia (BEI) hampir mencapai Rp 30.000 per lembar sahamnya.

Direktur Utama BCA, Jahja Setiaatmadja, mengungkapkan bahwa hingga saat ini saham BBCA di bursa masih sangat likuid karena investor masih terus melakukan trading terhadap saham perusahaan.

Saham Perseroan Masih Liquid

Sumber: Liputan6.com

Menurut berita yang disajikan oleh Kompas, Jahja Setiaatmadja mengatakan:

“Tujuan stock split adalah untuk membuat saham lebih likuid. Namun sampai saat ini saham BBCA masih likuid. Kami belum ada rencana untuk stock split.”

Sejak pertengahan Mei kemarin hingga hari ini, saham BCA terus menunjukkan trend kenaikan (Bullish) hingga saat penulisan, harga masih berada di posisi Rp 29.500 per lembar saham.

Dalam kurun waktu sebulan, saham BBCA telah mengalami kenaikan sekitar 10 persen. Adapun dalam setahun, saham bank yang dikendalikan oleh Djarum Group ini telah naik sekitar 38 persen yang berarti BBCA telah mencatatkan pertumbuhan positif yang menguntungkan para investornya.

Sekedar informasi, berdasarkan data emiten Kuartal Pertama (Q1) tahun 2019 yang saya dapatkan dari IPOT News, BBCA telah membukukan laba bersih sebesar Rp 6,061 Triliun. Dibandingkan pada Q1 tahun 2018, angka ini telah menguat karena sebelumnya BBCA telah membukukan laba bersih sebesar Rp 5,508 Triliun.

Berdasarkan data tersebut, kini laba per lembar saham (EPS) BBCA adalah Rp 248,44 dengan Price Earning Ratio (PER) diangka 118,24x dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 716,998 Triliun.

Peringkat Kedua di Asia Tenggara

Sumber: asia.nikkei.com

Pertumbuhan yang menguntungkan tersebut jualah yang membuat Bank BCA masuk sebagai bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia. Bahkan, Bank BCA juga telah menduduki posisi sebagai bank dengan kapitalisasi pasar kedua terbesar di Asia Tenggara.

Sekedar informasi, posisi BCA hanya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan DBS Bank asal Singapura yang memiliki nilai kapitalisasi pasar mencapai 51,38 Miliar dolar AS per akhir Desember 2018 lalu yang menduduki urutan pertama di Asia Tenggara.

1 COMMENT

Comments are closed.