Emas

Kerusuhan politik di Hong Kong dan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan dipaksa melakukan penurunan suku bunga lagi, dengan atau tanpa tekanan dari Presiden Donald Trump pada hari Senin kemarin membuat emas bertahan di sekitaran level $1.500.

XAUUSD, yang mencerminkan perdagangan emas, meningkat $9,78, atau 0,7%, pada $1,507,12 per ons pukul 01.33 WIB. Pada Rabu pekan silam, emas mencapai level $1.510,38 yang menjadi tingkat tertinggi sejak Mei 2013.

Emas berjangka untuk penyerahan Desember, berdasarkan data Comex New York Mercantile Exchange (NYMEX), berakhir naik $8,57, atau 0,6%, pada $1,517.20. Kontrak emas bulan Desember melonjak ke $1.522,35 pada Rabu.

Emas Menjadi Cahaya ditengah Kekhawatiran Global

Emas menjadi cahaya
sumber: videohive.net

Unjuk rasa akhir pekan di bandara internasional Hong Kong dilaporkan menyebabkan pembatalan seluruh penerbangan, sementara Cina mengatakan bahwa protes yang sedang berlangsung ini berada di “titik kritis” dan kekerasan perlu dihentikan.

Menurut Global Times, media yang didukung Pemerintah Cina, Kepolisian berkumpul di kota tetangga Shenzhen untuk melakukan “latihan”, dan ini meningkatkan spekulasi bahwa Cina mungkin bersiap merespons kerusukan tersebut dengan kekuatan.

James Hyerczyk, analis pasar senior di FX Empire, mengatakan:

“Berita itu juga mendorong pelemahan pasar ekuitas AS dan imbal hasil obligasi global, yang membuat emas menjadi investasi yang lebih menarik.”

Spekulasi atas The Fed yang akan mengikuti kebijakan pelonggaran sejumlah bank sentral global setelah devaluasi yuan Cina pekan lalu juga turut mendukung kenaikan emas.

Potensi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Suku bunga the fed
sumber: forbes.com

Trump Jumat pekan lalu menyerukan The Fed agar menurunkan suku bunga dengan persentase penuh, dan mengatakan ekonomi negara itu tengah “dikekang” kebijakan moneter bank sentral AS.

Fawad Razaqzada, analis FOREX.com di London, mengatakan:

“Di saat tak ada tanda-tanda ketegangan AS-Cina bakal mereda dalam waktu dekat, suku bunga bisa turun lebih rendah dan, pada gilirannya, menyebabkan lebih banyak kekacauan di tempat lain, seperti pasar ekuitas dan komoditas, termasuk dolar AS.”

Berita utama tentang konflik perdagangan Amerika Serikat dan Cina serta potensi dampak negatif terhadap perekonomian global telah mendongkrak permintaan terhadap aset safe haven seperti emas dan yen, serta pasar yang bersiap untuk menghadapi pemberlakuan tarif impor bagi produk Cina oleh pemerintahan Trump pada 1 September mendatang.

Todd Salomone, wakil presiden senior Schaeffer’s Investment Research, mengatakan:

“Ketidakpastian telah mendorong emas naik sementara imbal hasil obligasi turun tajam.”

Salomone merujuk pada “Kekhawatiran terhadap Federal Reserve yang dinilai lambat melakukan penyesuaian” terhadap kebijakan moneternya guna membendung dampak dari perang dagang dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Sumber: Investing.com

1 COMMENT

Comments are closed.