IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) akhirnya kembali ke atas level 6.300. Kemarin, IHSG ditutup menguat 0,59% menjadi 6.306,80.

Analis menilai penguatan indeks saham Indonesia tersebut masih akan berlanjut di perdagangan hari ini.

IHSG Berproyeksi Tumbuh

IHSG berproyeksi tumbuh
sumber: idxchannel.com

Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, memprediksi IHSG akan menguat dan bergerak dengan kisaran 6.290-6.350.

Wawan pun menilai sentimen domestik masih minim. Karena itu, pendorong utama pergerakan indeks saham saat ini adalah sentimen global. Ia pun mengatakan kepada Kontan:

“Kenaikan harga batubara dan nikel pada Kamis [kemarin] ikut mendorong penguatan indeks [IHSG].”

Direktur Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, mengamini kalau IHSG masih berpeluang menguat. Meski begitu, penguatan IHSG masih akan tergantung pada perkembangan perang dagang antara Amerika dan Cina.

Hans menyebut, kesepakatan AS dan Cina untuk kembali memulai perundingan bulan depan akan berbuah positif bagi IHSG. Tapi bila perseteruan kembali terjadi, indeks akan tertekan.

Karena itu, Hans memprediksi IHSG akan cenderung terkonsolidasi pada perdagangan hari ini. Indeks saham ini akan bergerak dalam kisaran pergerakan 6.239–6.338.

Bank Kecil-Menengah Sasar Right Issue

bank kecil menegah sasar right issue
sumber: arthikbulletin.com

Disisi lain, sejumlah emiten bank tengah mencari modal tambahan di paruh kedua 2019 untuk ekspansi kredit.

Strategi penerbitan saham baru (Rights Issue) menjadi pilihan utama bagi para bankir.

Salah satunya adalah PT Bank BRI Agroniaga Tbk (AGRO) yang akan melaksanakan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD/Rights Issue) pada bulan September 2019.

Anak usaha BRI ini akan melepas saham baru sebanyak 3 miliar lembar saham atau 12,32 persen dari modal yang disetor.

bri agro
sumber: cnnindonesia.com

Direktur Utama BRI Agro, Agus Noorsanto mengatakan, perusahaan menargetkan dapat menambah dana hingga Rp 700 Miliar dari aksi tersebut.

Kepada awak media, Agus mengatakan:

“BRI Agro akan rights issue tujuannya untuk perbesar kapasitas bisnis. Kami juga ingin perkuat infrastruktur IT atau digital kita.”

Agus pun mengatakan, dalam Right Issue ini, sang induk perusahaan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. tidak akan menggunakan haknya.

Dengan begitu, kepemilikan saham bank terbesar di Indonesia itu akan terdelusi menjadi sekitar 76,35 persen dari saat ini sebesar 87,10 persen.

Lewat righst issue tersebut, emiten berkode AGRO ini berharap bisa naik kelas dari Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II menjadi BUKU III. Saat ini, modal yang dimiliki perusahaan ada sekitar Rp 4,45 Triliun.

Agus belum mengumumkan harga pelaksanaan. Namun, dia menyebutkan harganya akan sangat kompetitif dan menarik untuk pasar.

Sekedar informasi, pada Desember 2018, saham AGRO berada di angka Rp 310 per lembar saham, kemudian mencapai Rp 372 pada 2 Agustus 2019 dan pada akhir Maret 2019 sebesar Rp 320 per lembar saham.

Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD akan berlangsung pada 10-17 September 2019. Sebelum itu, AGRO akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 26 Juni 2019, diikuti dengan proyeksi tanggal efektif penyataan pendaftaran HMETD pada 27 Agustus 2019.

Sumber: Kontan dan Tribunnews