International Investor Club – PT Indo Bintang Mandiri Tbk telah memulai penawaran saham perdana (IPO) mulai hari Jumat minggu kemarin.

Perusahaan manufaktur kampas rem non-asbestos dan teknologi friction material ini akan melepas sebanyak-banyaknya 276,67 juta saham biasa atas nama atau sebesar 25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Perusahaan berharap bisa mengantongi pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 26 November 2019 mendatang.

Baca Juga: Saham XL di Borong Asing, Bagaimana Prospek Jangka Panjangnya?

Jika berjalan sesuai rencana, masa IPO ini akan dijadwalkan pada 28 hingga 29 November 2019, penjatahan pada 2 Desember 2019, dan distribusi pada 3 Desember 2019. Indo Bintang menargetkan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 4 bulan depan.

indo bintang
Beritasatu (doc)

Berdasarkan siaran pers Indo Bintang pada Jumat kemarin, perusahaan ini akan menggunakan sekitar 37% atau maksimal sebesar Rp 14,75 Miliar untuk pembayaran sisa harga pembelian tanah dan bangunan.

Dengan rencana alokasi dana tersebut, maka target perolehan dana IPO Indo Bintang sekitar Rp 39,86 Miliar.

Sekedar informasi, perusahaan akan menggunakan 30% dana IPO untuk meningkatkan kapasitas produksi seperti pembelian mesin baru, instalasi fasilitas produksi dan pembelian perlengkapan, serta peralatan yang diperlukan terkait rencana pembelian mesin baru sehubungan dengan peningkatan produksi.

Sedangkan sisa dana yang sebesar 33% akan dialokasikan untuk modal kerja Indo Bintang, seperti pembayaran gaji, pembelian bahan material,dan kegiatan operasional lainnya.

Bursa Efek Indonesia (BEI) / IDX
suaratani (doc)

Untuk penjamin pelaksana emisi efek, Indo Bintang Mandiri menggandeng PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk.

Baca Juga: Penawaran Surat Utang Negara (SUN) pecah rekor, tembus 93,93 triliun rupiah

Perlu pembaca ketahui, calon emiten ini memiliki pabrik di Cikarang dengan luas 2.500 meter persegi. Pabrik ini memproduksi brake pad dan brake shoe untuk kendaraan bermotor serta suku cadang kereta api.

Hingga Mei 2019, pendapatan usaha perusahaan mencapai Rp 10,3 Miliar, naik 35,5% secara year-on-year. Kontribusi terbesar berasal dari penjualan dari suku cadang kereta api yang sebesar 54,96%. Adapun total aset perusahaan per 31 Mei 2019 senilai Rp 33,47 Miliar, total liabilitas Rp 12,49 Miliar, dan total ekuitas Rp 20,98 Miliar.

Dengan pertimbangan kemampuan, pencapaian, dan bidang usaha perusahaan, apakah pembaca tertarik untuk mem-booking emiten ini sebagai salah satu bagian portofolio investasi?

1 COMMENT

Comments are closed.