International Investor Club – Yahoo Jepang yang dimiliki SoftBank, menegaskan pihaknya sedang dalam pembicaraan untuk melakukan merger dengan perusahaan aplikasi perpesanan asal Korea Selatan, Line.

Merger ini akan membuat Line berada di bawah kendali SoftBank, membantu perusahaan memenuhi tujuannya untuk melakukan perubahan strategi dalam bisnis teknologinya yang mengalami kerugian.

Baca Juga: Indo Bintang Mandiri Tawarkan 25% Saham ke Publik dalam IPO

Sekedar informasi, Yahoo yang bulan lalu mengubah namanya menjadi Z Holdings dan tercatat di Bursa Efek Tokyo (TYO) adalah perusahaan internet terkemuka di Jepang. Sementara Line adalah perusahaan teknologi ternama dengan nilai sekitar US$ 27 Miliar atau setara dengan Rp 378 Triliun.

Yahoo Jepang dan Line

Berdasarkan sajian berita CNBC Indonesia, Yahoo Jepang mengatakan diskusi merger sedang berlangsung dengan Line tetapi belum ada yang diputuskan, begitupun penjelasan dari pihak Line.

Sontak saja, setelah berita ini terungkap, saham Z Holdings di TYO, yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 17 Miliar pada penutupan Rabu kemarin melonjak 16% pada perdagangan Kamis ini di level 445 yen per lembar saham.

Sementara saham Line, yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 10 Miliar pada saat yang sama, tidak banyak berubah dikisaran 4.585 yen per lembar saham.

Berdasarkan sumber kepada Reuters, kesepakatan mungkin dibuat pada akhir bulan, di mana SoftBank dan perusahaan induk Line, Naver, kemungkinan akan membentuk usaha dengan proporsi seimbang, 50:50. Sumber tersebut pun mengatakan:

“MergerĀ itu akan mengendalikan Z Holdings [Yahoo Jepang], yang pada gilirannya akan mengoperasikan Line dan Yahoo.”

Merger kedua perusahaan ini juga berarti akan menggabungkan operator dari dua aplikasi pembayaran QR Code terbesar di Jepang. Perlu diketahui, SoftBank memiliki PayPal yang digunakan oleh 19 juta orang di negara ini. Sementara Line memiliki Line Pay yang digunakan 82 juta pengguna Jepang dari aplikasi Line.

Baca Juga: Penawaran Lelang Sukuk Kian Lisu Karena Harga yang Dinilai Mahal

Menilik ke sektor perkebunan, sebulan terakhir komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mulai kembali menjadi primadona. Harganya mulai bangkit dan terus mencapai rekor terbarunya seiring dengan turunnya produksi dan stok serta melonjaknya ekspor minyak sawit Malaysia.

Harga CPO
The Star Malaysia (doc.)

Berdasarkan sajian berita CNBC Indonesia, pada Selasa minggu ini, harga CPO kontrak pengiriman 3 bulan di Bursa Malaysia Derivatif ditransaksikan di level tertinggi RM 2.638/ton pada perdagangan pagi hari. Harga CPO saat itu naik RM 11 atau 0,42% dibanding harga penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Hari berikutnya, mengacu data Refinitiv, harga CPO masih bertengger di level RM 2.600/ton, meskipun naik tapi kenaikan harga komoditas andalan Indonesia ini tidaklah banyak.

Mengutip berita di Reuters, Dewan Sawit Malaysia (MPOB) merilis data stok minyak sawit Malaysia periode Oktober yang turun 4,1% dibanding bulan sebelumnya menjadi 2,35 juta ton. Stok ini merupakan yang terendah kedua tahun ini setelah stok bulan Agustus yang mencapai 2,25 juta ton.