International Investor Club – Mulai hari ini, Bareksa akan menghentikan transaksi pembelian produk reksadana dari Narada Saham Indonesia dan Narada Campuran I dari PT Narada Aset Manajemen.

Bareksa
Bareksa (doc.)

Mengutip artikel di website resmi Bareksa, kemarin, Chief Business Development Bareksa, Ni Putu Kurniasari mengatakan bahwa suspensi atau penghentian sementara kedua reksadana tersebut akan berlaku sementara hingga ada klarifikasi lebih lanjut dari pihak PT Narada Aset Manajemen.

Baca Juga: Penawaran Lelang Sukuk Kian Lisu Karena Harga yang Dinilai Mahal

Sementara itu, investor atau nasabah Bareksa yang memiliki kedua reksadana tersebut tetap bisa melakukan transaksi penjualan.

Hingga informasi yang Bareksa himpun, kinerja kedua reksadana tersebut telah turun sejak awal minggu ini dan tercermin dari penurunan nilai aktiva bersih per unit penyertaan (NAB/UP).

Berdasarkan sajian berita Kontan, kedua produk reksadana ini pun memiliki aset berupa saham dengan fluktuasi tinggi dalam jangka waktu pendek. Bareksa mencatat, reksadana Narada Saham Indonesia anjlok 15,60% dalam satu hari pada 13 Oktober 2019 setelah penurunan yang juga terjadi di dua hari sebelumnya. Total dalam tiga hari, kinerja reksadana ini telah turun tajam 63,88%!

Reksadana Online
Bisnis.com (doc.)

Berdasarkan fund fact sheet September 2019, portofolio Narada Saham Indonesia terdiri dari saham Adaro Energy Tbk, Bank BRI Syariah Tbk, Terregra Asia Energy Tbk, Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan Waskita Karya Tbk.

Sementara itu, NAB/UP reksadana Narada Campuran I anjlok 11% pada 13 Oktober 2019. Total dalam tiga hari perdagangan, reksadana ini juga turun tajam hingga 69,17%!

Baca Juga:

Dilain hal, dana kelolaan industri reksadana asset under management (AUM) industri reksadana tumbuh Rp 12,48 Triliun pada Oktober 2019.

Awal minggu ini, Berdasarkan rilis Infovesta Utama yang disajikan Kompas, dana kelolaan industri reksadana di Oktober capai Rp 571,67 Triliun. Sebagai perbandingan, AUM industri reksadana di September sebesar Rp 559,20 Triliun.

Alhasil dana kelolaan tumbuh sebesar 2,23% atau naik Rp 12,48 Triliun secara bulanan. Pertumbuhan AUM tersebut juga didukung oleh pertumbuhan unit penyertaan (UP) sebesar 2,25%.

Peningkatan AUM tertinggi diraih reksadana pasar uang yang naik 12,60%. Begitu pun dengan UP naik 13,25%.

Sekedar informasi, sebulan terakhir pun, investor juga banyak masuk ke reksadana indeks sehingga AUM naik 9,08% dengan UP yang naik 7,48%.

2 COMMENTS

Comments are closed.