International Investor Club – Harga Surat Berharga Negara (SBN) kini telah terkoreksi setelah pasar obligasi reli.

Mengutip Indonesia Composite Bond Index (ICBI), harga SUN menurun 0,3% ke level 272,87 per Kamis minggu lalu, setelah sempat memasuki level tertinggi lebih dari lima tahun di level 273,69 pada tanggal 8 November lalu.

Baca Juga: PNM Terbitkan Obligasi Rp 1,35 Triliun, Apakah Anda Tertarik?

Baru-baru ini, harga SUN kembali naik tipis 0,09% ke level 273,13. Analis Obligasi BNI Sekuritas, Ariawan, mengamati harga obligasi yang terkoreksi karena pelaku pasar melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah pasar obligasi menguat / reli.

SBN
Republika (doc.)

Dalam sajian berita Kontan, Analis Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Lili Indarli mencatat bahwa pasar obligasi dalam enam minggu lalu konsisten naik, sehingga koreksi adalah hal yang wajar.

Ada pun katalis positif yang mendorong penguatan pasar obligasi kemarin adalah yang pertama, optimisme kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS) dan China fase satu. Kedua, penurunan suku bunga Fed Fund Rate (FFR). Ketiga, perpanjangan deadline Brexit dari Oktober 2019 ke Januari 2020.

Sementara, sentimen dalam negeri yang turut mendorong penguatan harga obligasi adalah, respon positif pasar terhadap susunan kabinet Jokowi-Ma’Ruf serta penurunan suku bunga BI “seven days reverse repo rate”.

Obligasi
Pasardana (doc.)

Ditambah lagi, rilis data current account deficit Indonesia yang membaik di defisit 2,7% terhadap produk domestik bruto (PDB) langsung membuat harga obligasi melambung hingga menyentuh rekor tertinggi pada minggu lalu.

Baca Juga: Saham Yahoo Terangkat saat Yahoo Jepang dan Line Siap Merger

Selain faktor dari aksi ambil untung, Lili pun mengamati, harga SUN terkoreksi karena juga terpengaruh belum adanya kejelasan mengenai perkembangan penandatanganan kesepakatan perdagangan fase satu antar AS dan China.

“Isu perang dagang jadi faktor utama yang menahan laju penguatan pasar obligasi.”

Investor asing juga mulai ragu masuk pasar SBN karena Gubernur The Fed, Jerome Powell, mengatakan tidak akan ada penurunan FRR lagi kecuali jika perekonomian AS memburuk.

Ariawan juga mengatakan bahwa kondisi geopolitik masih mengkhawatirkan.

“Investor asing belum masuk ke aset berisiko dan berdampak pada tertahannya aliran masuk dana asing di pasar SBN.”

1 COMMENT

Comments are closed.