Schroders Memperkirakan Yield Investasi Tahun Depan

International Investor Club – The Federal Reserve (The Fed) AS telah memberikan sinyal tak akan menurunkan suku bunga sejalan dengan data ekonomi yang cenderung solid. Hal ini dinilai akan berdampak pada pasar saham maupun obligasi di Tanah Air.

Presiden Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia, Michael Tjoajadi melihat sinyal tersebut akan direspons oleh Bank Indonesia (BI) dengan tidak seagresif tahun ini dalam menurunkan suku bunga. Seperti yang telah diketahui, pada tahun ini BI telah menurunkan suku bunga dari 6% menjadi 5%.

Schroders
The Straits Times (doc.)

Dalam Seminar Outlook 2020 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) disajian berita Kontan, Michael mengatakan:

“Dan Pak Deputi Gubernur Dody Budi Waluyo mengatakan bahwa interest rate akan di bawah untuk waktu yang lama. Artinya obligasi maupun saham tidak akan seperti dulu.”

Baca Juga: Inilah Tawaran Investasi Bodong yang Ditutup OJK, Ada Binomo Loh!

Dengan sinyal itu, Michael berpendapat, mulai saat ini Indonesia akan memasuki era suku bunga rendah. Dengan begitu maka imbal hasil obligasi maupun saham diprediksi tidak akan tumbuh double digit.

Meskipun, tetap akan memberikan imbal hasil yang lebih baik dari pada inflasi yang diproyeksikan sekitar 3,5%.

Michael mengungkapkan, “Di saham kita bisa 7%-8% itu akan bagus, apalagi sampai 12% itu akan sangat bagus. Kenapa? Karena kita memasuki era suku bunga rendah.”

Meski begitu, Michael melihat masih ada katalis positif yang mendukung pasar saham yakni terkait penerapan Omnibus Law. Dengan adanya insentif pajak dalam Omnibus Law tersebut, semestinya itu bisa meningkatkan earning per share (EPS) emiten, ujarnya.

Saham dan Obligasi
The Economist (doc.)

Michael pun menambahkan, “Itu akan membuat perusahaan efisien dalam menggunakan modal, dan berharap nantinya pajak individual di saham akan kuat dan itu yang akan bisa menggerakkan pasar kita.”

Baca Juga: Rumah.com: Tingkat Kepuasan Konsumen Properti Menurun

Lebih lanjut, Michael juga menyoroti soal peluang asing akan terus keluar dari pasar domestik. Menurutnya ini perlu membuat pelaku pasar hati-hati. Meskipun di sisi lain, dia melihat asing hanya bisa melakukan transaksi atas saham di dalam negeri sekitar 20%-25%. Artinya meski ada risiko terus kelar, porsinya cenderung kecil.

Setidaknya, kejelian investasilah yang akan membantu Anda mendapatkan Yield yang optimal tahun depan karena suku bunga rendah bisa menjadi sinyal positif bagi beberapa emiten yang bergerak dibidang sekitarannya. Selamat berinvestasi ya!