International Investor Club – Raksasa telekomunikasi China, Huawei kemarin telah memenangkan kontrak untuk memasok infrastruktur 5G ke Jerman, akan tetapi kesepakatan yang sensitif secara politis itu harus mendapat persetujuan pemerintah menyusul kekhawatiran Amerika Serikat (AS) tentang teknologi mata-mata negara itu.

Telefonica Jerman, operator terbesar kedua setelah Deutsche Telekom, menyatakan pihaknya memberi Huawei dan Nokia Finlandia peran yang setara dalam proyek tersebut.

Huawei
Politico (doc.)

Telefonica menyebut kedua entitas merupakan “mitra strategis yang telah terbukti”. Telefonica dalam sebuah pernyataan seperti dikutip ChannelNewsAsia.com menyatakan:

“Kerja sama ini … akan tunduk pada sertifikasi keamanan teknologi dan harus sesuai dengan peraturan hukum di Jerman.”

Baca Juga: Menkominfo Dorong Google dan Facebook Buka Pusat Data di Tanah Air

Perusahaan tersebut, sebuah unit dari raksasa Telefonica Spanyol, menyatakan akan patuh dengan proses politik yang sedang berlangsung dalam mendefinisikan pedoman keamanan, namun tanpa menunda dimulainya peluncuran 5G.

Pihaknya akan memulai upgrade 5G tahun depan dan berharap untuk memasok 30 kota pada akhir 2022.

AS dan kekuatan internasional lainnya telah menyuarakan kekhawatiran bahwa Huawei dapat digunakan oleh Cina untuk memata-matai negara lain. Akan tetapi klaim itu dibantah keras oleh perusahaan tersebut.

Jaringan 5G
Times Tech (doc.)

Jerman sejauh ini menentang tekanan untuk mengecualikan Huawei dari proses penawaran dan menyatakan akan mensyaratkan kondisi keamanan yang ketat, tetapi para kritikus menuduh Berlin berusaha menenangkan Cina, mitra dagang terbesarnya, dan mengutamakan kepentingan ekonomi.

Baca Juga: Gunakan Kamera Berbasis AI, Australia Mampu Mendeteksi Penggunaan Ponsel saat Mengemudi

Selain itu, dalam sajian berita Katadata, Huawei berencana mengembangkan lebih banyak produk pada sistem operasi atau OS Harmony, ketimbang produk ponsel, tablet, atau komputer pada tahun depan. Ini merupakan salah satu strategi Huawei dalam menghadapi perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina.

Sebelumnya, Huawei meluncurkan OS Harmony pada bulan Agustus lalu. Peluncuran OS Harmony dianggap sebagai alternatif dari OS Android Google yang terdampak pembatasan dagang Amerika Serikat. AS memotong akses teknologi yang dibuat oleh perusahaan-perusahaannya pada Huawei.

Dikutip dari Reuters, President of The Huawei Consumer Business Group’s Software Division, Wang Chenglu mengatakan pada awal minggu ini bahwa pihaknya akan tetap menggunakan Android untuk smartphone pada tahun depan.

Namun, secara bertahap, pihaknya akan meluncurkan OS Harmony pada perangkat lain, seperti jam tangan pintar (Smart Watch), speaker, dan perangkat VR (Virtual Reality).