International Investor Club – PT PP Properti Tbk atau PPRO mencatatkan laba bersih hingga kuartal III (Q3) 2019 sebesar Rp 210,5 Miliar, anjlok 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni Rp 305,82 Miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan pada Rabu kemarin, pendapatan usaha PPRO turun 24,7% menjadi Rp 1,37 Triliun. Hal ini seiring dengan penjualan realti berupa apartemen dan tanah yang menjadi penyumbang utama bisnis perusahaan yang lesu dan turun 25,4% menjadi Rp 1,26 Triliun.

PP Properti
Finansialku (doc.)

Sementara itu, pendapatan usaha dari hotel, pelayanan, dan sewa tercatat sebesar Rp 111,8 Milar atau turun 10% dibanding periode yang sama tahan lalu Rp 124,4 Miliar. Disisi lain, beban pokok penjualan ikut turun 29,2% menjadi Rp 964 Miliar.

Baca Juga: Rumah.com: Tingkat Kepuasan Konsumen Properti Menurun

Adapun PPRO juga mencatatkan total aset naik 10,43% atau sebesar Rp 1,71 Triliun. Kenaikan terutama terjadi pada aset lancar mencapai 15,72% atau sekitar Rp 1,51 Triliun, terutama dipengaruhi oleh kenaikan persediaan mencapai Rp 1,26 Triliun.

Dalam sajian berita Katadata, PP Properti menjelaskan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI):

“Kas dan setara kas turun Rp 54,3 Milyar, piutang usaha naik Rp 419 Miliar, dan biaya dibayar dimuka naik sebesar 21,9%.”

Kenaikan aset juga seiring dengan peningkatan liabilitas yang mencapai 14,86% atau sekitar Rp 1,58 Triliun. Kenaikan liabilitas terutama berkat tambahan utang dalam bentuk obligasi yang mencapai Rp. 1,33 Triliun dan utang bank jangka panjang Rp 410,4 Miliar.

PPRO
Jawapos (doc.)

Sebelumnya, Direktur Utama PP Properti, Taufik Hidayat mengatakan ia optimis bahwa marketing sales tahun ini dapat tumbuh lebih tinggi dari realisasi tahun lalu sebesar Rp 3,8 Triliun. Hingga Q3 2019, marketing sales tercatat sebesar Rp 1,44 Triliun atau baru mencapai 34% dari target tahun ini sebesar Rp 4,17 Triliun.

Selain itu, pihaknya tengah berencana membangun residensial di Bandung, Jawa Barat dengan luas lahan sekitar 12 hektar. Harga rumah itu dipatok tak sampai Rp 1 miliar.

Baca Juga: Menkominfo Dorong Google dan Facebook Buka Pusat Data di Tanah Air

Sebelumnya, masih seputar properti, PT Lippo Karawaci Tbk telah bekerja sama dengan perusahaan modal ventura (venture capital) asal Jepang, SoftBank untuk mengembangkan properti berbasis digital.

Pengembang ini pun bakal mengadopsi teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (Artificial Inteligence/AI) dan Internet of Things (IoT).

Dalam sajian berita Katadata, CEO Lippo Karawaci John Riady dan Vice President Global Bussines Strategy Division SoftBank, Hidebumi Kitahara, pun menandatangani perjanjian kerja sama di Jakarta, Kamis kemarin. John menilai, perusahaan harus berfokus pada peningkatan pengalaman konsumen (consumer experience).