Kesepakatan Perdagangan AS-China

International Investor Club – Penandatangan kesepakatan perdagangan fase pertama antara Amerika Serikat (AS) dan China dinilai mampu menaikkan pamor aset dengan risiko tinggi. Bahkan prospek investasi di 2020 diperkirakan akan lebih positif dibandingkan 2019.

Presiden Direktur Sucorinvest Asset Management, Jemmy Paul Wawointana mengungkapkan bahwa prospek ekonomi akan semakin membaik dengan tercapainya kesepakatan dagang fase pertama. Meski sentimen terkait konflik AS dan Iran masih memberikan kekhawatiran di pasar.

Baca Juga: Sinar Mas Multifinance akan Terbitkan Obligasi Senilai Rp 400 Miliar. Minat?

Kesepakatan Perdagangan
Financial Times (doc.)

Dalam sajian berita Kontan, Jemmy mengungkapkan:

“Kami pikir ekonomi dunia akan membaik lagi setelah sempat slowing down, lebih bagus masuk ke agresif seperti saham dan obligasi.”

Terlebih, selama ini pasar cenderung khawatir untuk masuk ke instrumen berisiko tinggi lantaran meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi pasar global, khususnya perang dagang dan konflik geopolitik. Sehingga, berkurangnya kekhawatiran di pasar menjadi sentimen positif bagi prospek investasi ke depan.

Jemmy menilai, sentimen domestik cukup mendukung investor untuk masuk ke instrumen dengan risiko tinggi. Hal ini tercermin dari kondisi rupiah yang menguat dan berdampak positif bagi biaya pendanaan atau cost of fund (COF) yang cenderung turun.

AS-Cina
Financial Times (doc.)

Selain itu, tren suku bunga turun juga masih akan berlanjut. Jemmy memperkirakan ada ruang 1-3 kali bagi Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuan tahun ini. Ia menjelaskan:

“Potensi hingga tiga kali, jika rupiahnya menguat hingga ke Rp 12.000 per dolar AS.”

Baca Juga: AMOR, Manajer Investasi Pertama yang Ter-Listing di Bursa BEI

Untuk akhir 2020, Jemmy pun optimistis rupiah bisa menguat dan berada di kisaran Rp 13.000 per dolar AS. Hal tersebut didukung dengan penurunan impor minyak seiring dengan kebijakan B30 dari pemerintah.

Ditambah lagi, ekspor produk manufaktur juga mulai meningkat didukung hilirisasi. “Obligasi juga bisa naik banyak tahun ini, dan mudah-mudahan prospek investasi lebih baik di 2020,” ungkapnya.

Bagi investor yang bersikap moderat atau pasif, Jemmy merekomendasikan untuk menambah portofolio reksadana saham sekitar 5%, disusul penambahan porsi surat utang negara (SUN) sekitar 5%-10%, emas sebagai hedging sekitar 5%.

Sedangkan porsi cash bisa ditambah 10%. Sedangkan untuk investor agresif, Jemmy merekomendasikan untuk menjadikan saham sebagai dominasi asetnya, dengan porsi cash ditingkatkan 10%.