Jiwasraya dan Masalahnya

International Investor Club – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan suspensi atau pembatasan penjualan produk reksadana tertentu terhadap 37 manajer investasi (MI) pada tahun 2019. Dari jumlah tersebut, terdapat MI yang tersandung kasus Asuransi Jiwasraya.

Kepala Eksekutif Pasal Modal OJK Hoesen mengatakan, terdapat beberapa MI yang tersandung kasus Jiwasraya karena melakukan penerbitan reksadana investor tunggal. Namun ia tidak mau menyebutkan berapa jumlah MI yang dikenakan sanksi terkait Jiwasraya.

Baca Juga: Lelang SUN Laris Manis, Penawaran Tembus Rp 94 Triliun

Jiwasraya

Dalam sajian berita Kontan, Hoesen mengungkapkan:

“Saya lupa, berapa (MI) yang terkait dengan Jiwasraya. Salah satu modusnya (reksadana investor tunggal).”

Sejak tahun lalu, regulator memang telah melarang penerbitan reksadana investor tunggal. Menurut Hoesen, penerbitan reksadana tersebut sudah tidak sesuai dengan filosofi awal yang seharusnya dimiliki investor publik.

Hoesen pun menambahkan, “Harusnya begitu, karena filosofi dari reksadana adalah kumpulan dari beberapa investor, portofolionya juga harus portofolio, kalau ini satu aset dan investornya juga satu, itu sudah di luar filosofi itu.”

Seperti diketahui, 37 MI tersebut telah dikenakan sanksi, berupa pembatasan penjualan produk reksadana bermasalah. Mereka juga dilarang menambah dan menerbitkan produk sejenis ketika dikenakan sanksi.

MI
Medium (doc.)

Sebenarnya, regulator telah menemukan beberapa masalah dalam proses bisnis MI tersebut. Sayangnya, Hoesen hanya mau mengungkapkan soal masalah penerbitan reksadana investor tunggal.

Baca Juga: Jangan Cemas, BPJS Ketenagakerjaan Pastikan Dana Kelolaan Aman

Disisi lain, sebelumnya, tingginya permintaan investor Tanah Air terhadap saham-saham emiten China, membuat PT BNP Paribas Asset Management meluncurkan Reksadana Syariah BNP Paribas Greater China Equity Syariah USD.

Sekedar informasi, BNP Paribas Greater China Equity Syariah USD merupakan reksadana pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menawarkan akses dan eksposur penuh ke saham-saham emiten China.

Ini sekaligus menjadikan BNP Paribas sebagai manajer investasi (MI) pertama di Indonesia yang menawarkan akses penuh ke pasar ekonomi terbesar dunia, sekaligus mengintegrasikan prinsip Sustainable Responsible Investment (SRI).

MI juga melihat adanya peluang investasi di pasar China yang sangat besar, mengingat pertumbuhan ekonomi negeri Tirai Bambu tersebut telah ditopang sektor teknologi / inovasi, peningkatan konsumsi dan konsolidasi industri.

Hal tersebut tampak dari meningkatnya inklusi saham-saham emiten China di indeks global MSCI. Ditambah lagi, pergerakan positif ekonomi China terus mendorong saham-saham emiten China semakin dikenal dan diminati dunia.