International Investor Club – Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menghentikan sementara (suspensi) perdagangan lima saham dan beserta waran yang tercatat di bursa. Suspensi ini dilakukan terhitung sejak perdagangan sesi I Kamis kemarin (23 Januari 2020) hingga pengumuman bursa lebih lanjut.

Disebutkan bahwa penghentian perdagangan saham-saham ini atas perintah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. SR-11/PM.21/2020 tanggal 22 Januari 2020 perihal Perintah Penghentian Sementara Perdagangan Efek. Tujuannya untuk menjaga perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien.

Baca Juga: Grab Akan Rilis Geomapping Tahun Ini dengan Gaet Investor Jepang

Dalam sajian berita CNBC Indonesia, dijabarkan kelima saham yang disuspensi tersebut:

Saham yang di Suspensi BEI
Detik Net ID / CNBC Indonesia (doc.)

BEI menyebutkan pembukaan perdagangan atas efek-efek tersebut baru akan dilakukan jika perusahaan yang bersangkutan telah memenuhi kewajibannya kepada bursa. Ditambah dengan adanya perintah pembukaan perdagangan kembali dari pihak OJK.

Emiten yang tersuspensi tersebut adalah milik Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputro (BT). Keduanya saat ini sedang dalam proses hukum di Kejaksaan Agung, bersama dengan mantan direktur utama Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan direktur keuangan dan investasi Jiwasraya, Hary Prasetyo, dan mantan Kepala Divisi Keuangan dan Investasi, Syahmirwan.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum Kejagung), Hari Setiyono, mengungkapkan ada temuan transaksi saham dengan menggunakan pinjam nama alias nominee di Bursa Efek Indonesia, dalam kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Jiwasraya

Dalam sajian berita CNBC Indonesia, Hari di Gedung Bundar mengungkapkan:

“Pada hari ini [Kamis kemarin] penyidik telah melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan dan penggeledahan dan koordinasi. Satu Agung T, ini nominee saham grup terhadap tersangka BT, kemudian Dwi Nugroho milik tersangka BT juga.”

Baca Juga: Inilah Katalis Pasar Obligasi untuk Menguat, Cekidot!

Selain itu juga, OJK telah melakukan suspensi atau pembatasan penjualan produk reksadana tertentu terhadap 37 manajer investasi (MI) pada tahun 2019. Dari jumlah tersebut, terdapat MI yang tersandung kasus Asuransi Jiwasraya.

Kepala Eksekutif Pasal Modal OJK Hoesen mengatakan, terdapat beberapa MI yang tersandung kasus Jiwasraya karena melakukan penerbitan reksadana investor tunggal. Namun ia tidak mau menyebutkan berapa jumlah MI yang dikenakan sanksi terkait Jiwasraya.