International Investor Club – Pada awal tahun ini, sejumlah emiten menerbitkan obligasi global berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS). Sebut saja PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).

MEDC menawarkan obligasi 144A/Reg S senilai $ 650 Juta bertenor tujuh tahun dengan kupon 6,37% per tahun. Sementara itu, BSDE menerbitkan obligasi global senilai $ 300 Juta dengan bunga per tahun 5,95% dan bakal jatuh tempo pada 2025. Surat utang BSDE tersebut ditawarkan melalui anak usahanya, yakni Global Prime Capital Pte. Ltd (GPC).

Baca Juga: Bank Indonesia (BI) Merespons Wacana Pembubaran OJK. Apa Katanya?

Obligasi - Bond

Direktur Utama MEDC, Hilmi Panigoro mengatakan bahwa perusahaan memilih untuk menerbitkan obligasi global karena pendapatan perusahaannya hampir 100% dalam dolar AS. Ia mengungkapkan:

“Bunga obligasi dalam dolar AS juga jauh lebih murah dibanding obligasi rupiah.”

Sebagai perbandingan, obligasi rupiah MEDC bertenor tiga sampai lima tahun yang saat ini belum lunas memiliki kisaran bunga 8,75%-11,8%. Menurut Hilmi, jika bunga beserta pokoknya dikonversi ke dalam dolar AS dengan nilai tukar saat ini, maka bunganya setara dengan 4,35%-6,33%.

Hilmi mengungkapkan, minat investor global dalam menyerap obligasi perusahaan Indonesia juga masih cukup besar. Hal itu terbukti dari obligasi MEDC yang mencatatkan kelebihan permintaan sebanyak enam kali.

SUN dan Obligasi

Tidak jauh berbeda, Direkur BSDE, Hermawan Wijaya menyampaikan bahwa pihaknya memilih untuk menerbitkan obligasi global karena tingkat bunganya bisa lebih kecil dibanding obligasi rupiah. Selain itu, besaran dana yang didapat juga bisa lebih besar.

Sayangnya, Hermawan belum mau memberitahu seberapa besar minat investor pada surat utang global yang BSDE terbitkan.

Baca Juga: Obligasi Kembali Bangkit Karena Pemulihan Rupiah

Meskipun begitu, awal minggu lalu, BSDE telah menandatangani purchase agreement dengan Citigroup Global Markets Singapore Pte. Ltd., Credit Suisse (Singapore) Limited, UBS AG Singapore Branch, dan Mandiri Securities Pte. Ltd. selaku pembeli awal (initial purchasers) dari obligasi ini.

Tak mau ketinggalan, pada semester I-2019, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga berencana menerbitkan obligasi global senilai $ 500 Juta. Hasil penerbitan surat utang itu akan digunakan untuk menopang kebutuhan pembiayaan alias refinancing dan juga penyaluran kredit.

Investment Specialist PT Sucorinvest Asset Management, Dimas Yusuf mengatakan bahwa para emiten ini memilih untuk menerbitkan obligasi dalam dolar AS karena kupon surat utang dalam mata uang ini jauh lebih rendah dibanding rupiah.

Dimas membandingkan bunga LIBOR obligasi dolar AS dengan tenor tiga sampai lima tahun sudah di kisaran 1%. Berbeda dengan obligasi rupiah yang kuponnya masih berkisar di 6,5%-7,5% untuk obligasi bertenor satu sampai tiga tahun.