International Investor Club – Korporasi mulai berbondong-bondong menerbitkan obligasi global (global bond) pada tahun ini. PT Pertamina pada Januari lalu telah menerbitkan dua seri obligasi global dengan total nilai mencapai $ 1,5 Miliar.

Dua seri tersebut memiliki waktu jatuh tempo masing-masing 2030 dan 2050. Obligasi yang jatuh tempo pada 2030 memiliki kupon sebesar 3,10% dengan volume sebanyak $ 500 Juta. Sementara seri yang jatuh tempo pada 2050 memiliki kupon sebesar 4,175% dengan volume sebanyak $ 1 Miliar.

Pertamina menyebut akan menggunakan dana hasil penerbitan obligasi untuk peningkatan capital expenditures. Pertamina berencana untuk meningkatkan kapasitas penyulingan dan efisiensi serta ekspansi migas baru.

Baca Juga: Nasabah Emco dan Minna Padi mengadu ke Hotman Paris, Makin Panas!

Obligasi - Bond

Selain itu, PT Surya Eka Perkasa Tbk (ESSA) melalui enak usahanya PT Panca Amara Utama juga berencana menerbitkan obligasi global senilai $ 450 Juta dengan maksimum jatuh tempo 2027.

Dalam keterbukaan informasi yang disajikan Kompas, pihak manajemen ESSA mengungkapkan:

“Rencana transaksi ini dilaksanakan dalam rangka pembiayaan kembali atau refinancing seluruh utang PAU kepada International Finance Corporation dan sisanya untuk modal kerja secara umum.”

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengungkapkan, tren peluncuran obligasi global (Global Bond) ini tidak terlepas dari yield Global Bond yang dalam tren menurun. Kepada Kontan, Nico mengungkapkan:

“Global bond ini kan acuannya US Treasury, yang saat ini terus turun. Nah ketika penurunan inilah jadi momen terbaik untuk menerbitkan global bond karena akan mengurangi tingkat cost of fund emiten.”

Baca Juga: BTN Targetkan Millenial di Indonesia Properti EXPO 2020

Obligasi Bond

Sama seperti yang lain, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto melihat rendahnya cost of fund atau biaya pendanaan dan yield merupakan kesempatan bagi para emiten untuk menerbitkan obligasi global.

Ramdhan juga mengatakan, “Apalagi 1-2 bulan ini pasar saham cukup tertekan dengan berbagai kasus sehingga instrumen yang relatif aman adalah surat berharga negara (SBN). Dengan investor beralih ke SBN nanti ini akan berimbas juga ke obligasi korporasi.”

Nico juga menambahkan bahwa saat ini S&P telah memberikan rating BBB dengan outlook stable terhadap Indonesia. Ini merupakan tolok ukur yang baik. Sebab selain imbal hasil, investor juga mengutamakan tingkat risiko yang terukur.