International Investor Club – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia atau AAJI menilai bahwa industri asuransi jiwa berpotensi meningkatkan investasi ke Surat Berharga Negara (SBN) di tengah penurunan imbal hasil (yield) obligasi.

Direktur Eksekutif AAJI, Togar Pasaribu menjelaskan bahwa hal tersebut dapat terjadi karena kondisi pasar saham yang sedang tertekan. Meskipun sama-sama sedang menurun kinerjanya, SBN dinilai masih menjadi opsi yang lebih baik bagi asuransi jiwa.

Dalam sajian berita Bisnis, Togar mengungkapkan:

“Kalau logikanya sih akan ada peningkatan investasi di SBN, ditambah lagi situasi pasar saham yang lagi tertekan. Pertimbangannya tidak semata-mata yield [obligasi yang turun], tapi juga kecenderungan indeks harga saham gabungan [IHSG] yang turun.”

Baca Juga: 5 Hari Bullish, Bagaimana Kelanjutan CPIN Menurut Analis?

Asuransi Jiwa
Lifeinsure (doc.)

Menurut Togar, asuransi jiwa akan selalu mempertimbangkan investasi jangka panjang, mengingat sejumlah produk memiliki masa proteksi jangka panjang. Namun, dalam kondisi seperti ini, asuransi jiwa akan melakukan penyesuaian portofolio untuk keperluan jangka pendek. Ia pun mengungkapkan:

“Dalam situasi saat ini biasanya akan switch ke save heaven, seperti emas. Cuma harga emas juga lagi tinggi [sehingga SBN menjadi pilihan].”

Berdasarkan statistik perasuransian Otoritas Jasa Keuangan (OJK), investasi asuransi jiwa di instrumen obligasi mencapai Rp 101,8 Triliun pada 2019. Jumlah tersebut mencakup 20,85% dari total investasi industri pada tahun lalu senilai Rp 488,1 Triliun.

Industri asuransi jiwa menanamkan investasi Rp 74,2 Triliun di SBN Republik Indonesia pada 2019 atau sekitar 15,2% dari total investasi. Selain itu, pada tahun lalu terdapat pula investasi di obligasi korporasi senilai Rp 27,3 Triliun (5,5%) dan SBN yang diterbikan oleh negara selain RI senilai Rp 245,1 Miliar (0,05%).

Baca Juga: Taspen: Mayoritas Investasi Dialokasikan ke Obligasi

Daily Excelsior (doc.)

Selain itu, sebelumnya, permintaan produk reksadana dolar AS masih bertumbuh, PT Sucorinvest Asset Management siap meluncurkan beberapa produk reksadana baru dalam waktu dekat.

Rencananya, akan ada dua produk reksadana baru yang bakal dirilis, yakni Sucorinvest USD Balanced Fund dan Sucorinvest Stable Fund.

Presiden Direktur Sucor AM, Jemmy Paul Wawointana menjelaskan bahwa dana Sucorinvest USD Balanced Fund kebanyakan akan ditempatkan pada obligasi korporasi yang dicampur dengan sedikit saham. Dia menjelaskan, alasan Sucorinvest tetap merilis produk reksadana berbasis dolar AS di tengah penguatan rupiah karena adanya kebutuhan investor.