Buyback Obligasi

International Investor Club – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan pada hari ini bahwa pemerintah dan otoritas siap menggunakan semua langkah untuk menstabilkan pasar keuangan, seperti yang diterapkan saat krisis keuangan global 2008.

Dalam sajian BeritaSatu, Sri Mulyani mengungkapkan:

“Pilihannya termasuk membeli kembali [Buyback] obligasi pemerintah.”

“Kami akan tetap menjaga mekanisme pasar sehingga integritasnya tetap utuh, sambil mencegah aksi ambil untung yang berlebihan dan spekulasi yang berlebihan dalam situasi abnormal ini,” ujar Sri Mulyani.

Baca Juga: Banjir dan Corona Telah Memukul Bisnis Properti

Sri Mulyani MenKeu
GoRiau (doc.)

sang MenKeu pun mengatakan bahwa pelemahan di pasar global baru-baru ini karena anjloknya harga minyak dan ketakutan virus corona. Untuk itu, pemerintah akan bergerak mencegah sehingga tidak menekan ekonomi Indonesia.

Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 6,58% ke kisaran 5.136,81 pada akhir perdagangan Senin (9 Maret). Saham-saham unggulan yang tergabung dalam Investor33 turun 7,6% ke kisaran 386,41, indeks LQ45 turun 8,26% ke kisaran 813,75, JII turun 7,84% ke 541,4.

Sebelumnya, dalam kesempatakn berbeda, Sri Mulyani mengatakan, akibat wabah penyakit virus korona di Tiongkok, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksikan berada di bawah 5%.

Sri Mulyani mengakui laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama akan melambat di bawah 5 persen, akibat wabah virus xorona di Tiongkok. Kondisi tersebut sudah dilaporkan ke Presiden Joko Widodo dan akan dibahas dalam rapat kabinet.

Baca Juga: Bank BJB Tawarkan Obligasi Senilai Rp 500 Miliar, Ambil Gak?

Buyback Obligasi
PasarDana (doc.)

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan meski laju pertumbuhan ekonomi di Singapura akan mengalami downgrade akibat adanya virus corona, belum terlalu berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam sajian BeritaSatu, Airlangga mengungkapkan:

“Kalau Indonesia kan, kemarin sudah saya sampaikan, bahwa efeknya akan tergantung dari Tiongkok. Kalau dia turun 2%, kita dari efek ekonomi Tiongkok, akan turun 0,3%.”

Ia pun menambahkan, “karena, beberapa produk hortikultura dan bahan baku obat sangat tergantung pada Tiongkok. Namun untuk melihat dampak secara keseluruhan akibat virus korona di Tiongkok, ia meminta semua pihak menunggu hingga akhir Februari 2020. Disaat Tiongkok sudah memastikan virus korona berhasil diatasi dan waktu libur sudah ditetapkan selesai. Baru setelah itu, pihaknya akan menentukan langkah selanjutnya.”