Fintech Umrah dan Haji

International Investor Club – Adanya pandemi virus corona Covid-19 belum sepenuhnya berdampak pada usaha teknologi finansial pembiayaan (fintech). Namun beberapa fintech yang khusus dalam membiayai wisata dan ibadah seperti umrah dan haji mulai terdampak.

Meski belum mengetahui seberapa besar, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengatakan ada penurunan pada konsumen fintech yang ingin meminjam dana untuk umrah.

Baca Juga: Standard Akuntansi Baru Telah Mengusik Emiten Konstruksi dan Properti

Fintech Umrah dan Haji
Middle East Eye (doc.)

Apalagi, Pemerintah Arab Saudi telah menangguhkan umrah termasuk bagi jamaah Indonesia. Dikatakan ada beberapa fintech yang membiayai umrah di antaranya Ammana dan Bsalam.

Dalam sajian berita KataData, Ketua Harian AFPI Kuseryansyah mengungkapkan:

“Tentu saja [fintech umrah] terkena dampak langsung dengan dihentikannya pengiriman jemaah umrah ke tanah suci Mekah.”

Selain itu turunnya minat berwisata karena kekhawatiran akan virus corona juga berdampak pada fintech. Namun dia masih terus memantau perkembangan wabah virus corona dan dampaknya pada industri fintech secara keseluruhan. “Kami mengobservasi lagi ke sektor-sektor lain,” ujar Kuseryansyah.

Dari dampak tak langsung ini, APFI juga mengantisipasi kemungkinan penurunannya investasi dari para pemberi pinjaman (lender). Terlebih, jika ada ketidakstabilan kondisi ekonomi nasional maupun global.

Berdasarkan data OJK hingga Desember 2019, ada 164 fintech lending yang terdaftar di OJK hingga akhir tahun lalu. Sebanyak 25 di antaranya sudah berizin. Namun per Februari, jumlah anggota AFPI menjadi 161 penyelenggara karena satu dicabut tanda daftarnya, dan dua lainnya mengembalikan tanda daftar.

Baca Juga: Kecilin, Aplikasi Lokal Penghemat Kuota Internet, Serbu Guys!

Fintech ilegal

Sekedar informasi, Total penyaluran pinjaman dari fintech lending mencapai Rp 81,5 Triliun, meningkat 259% sejak awal tahun. Jumlah pemberi pinjaman (lender) juga meningkat 192% menjadi 605.935. Sedangkan angka rekening peminjam (borrower) juga tumbuh 325% menjadi 18.569.123 entitas.

Selain itu, masih perihal dampak dari corona, dalam sajian KataData dijabarkan, Decacorn dan unicorn Indonesia seperti Gojek, OVO dan Tokopedia telah mengeluarkan kebijakan agar karyawannya bekerja dari rumah guna meminimalkan penyebaran virus corona, begitupun juga dengan Grab.

Public Relations Manager Grab Indonesia, Andre Sebastian mengatakan bahwa kantor di Jakarta ditutup sementara selama 12-17 Maret karena ada pembersihan menyeluruh. Ia pun mengatakan:

“Karyawan akan bekerja dari rumah selama proses ini berlangsung.”

Langkah tersebut merupakan salah satu upaya mencegah penyebaran virus corona. Sejak kasus pertama dikonfirmasi di Indonesia, Grab mewajibkan karyawan yang sakit untuk tidak masuk bekerja dan menyatakan deklarasi riwayat perjalanan.