International Investor Club – Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan pasar obligasi akan mendapatkan angin segar dengan adanya pemangkasan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI). Pemangkasan suku bunga diproyeksi mencapai 25 bps hingga 50 bps.

Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan lelang obligasi masih menunjukkan total penawaran yang luar biasa di tengah situasi pasar yang penuh gejolak.

Baca Juga: Waskita Karya Siapkan Dana untuk Dua Obligasi yang Jatuh Tempo

Obligasi

Dalam laporan risetnya yang dikutip oleh Bisnis, Nico mengungkapkan:

“Ini artinya apa? para pelaku pasar dan investor masih belum kehilangan minat untuk berinvestasi di Indonesia, itu artinya para pelaku pasar selama ini masih wait and see terkait dengan situasi dan kondisi yang terjadi di Indonesia.”

Nico pun mengatakan bahwa pekan ini pasar obligasi mungkin akan mendapatkan sentimen positif dari pemotongan bunga acuan oleh BI. Langkah ini akan memberikan ruang yang lebih banyak kepada pasar obligasi untuk bertahan di tengah pelemahan.

“Permasalahannya adalah apakah pemangkasan tingkat suku bunga saat ini masih memberikan pengaruh? Sesuatu yang patut disaksikan bersama sejauh mana efek positif tersebut akan terjadi terhadap pasar,” tuturnya.

Selain itu, Pihaknya melihat pelemahan belum menjadi batas paling bawah. Kemarin, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun 0,69 persen ke level 274,9755.

Jadi, Nico melihat saat ini merupakan momentum yang tepat untuk menyiapkan dana lalu menonton pasar bergerak melemah. Semakin kasus Covid-19 bertambah, tekanan terhadap bursa diperkirakan akan bertambah.

Baca Juga: Fintech Pembiayaan Umrah dan Wisata Lesu Karena Corona

Bank Indonesia BI

Disisi lain, kenaikan premi credit default swap (CDS) secara signifikan sepanjang Maret 2020 membuat dana asing mengalir ke luar dari instrumen surat utang Indonesia.

Premi credit default swap (CDS) bertenor 5 tahun naik 47,624 poin ke level 204,597 pada, awal minggu ini pukul 15:40 WIB Posisi itu terus merangkak naik dan menjadi posisi tertinggi sejak awal tahun. Sementara itu, CDS 10 tahun Indonesia berada di level 293,305 per 13 Maret 2020. Level itu juga menjadi yang tertinggi pada periode berjalan 2020.

Analis Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto menilai bahwa kenaikan CDS disebabkan oleh kekhawatiran risk off karena Covid-19 yang solusinya mulai mengarah ke lockdown. Langkah itu menurutnya akan berpotensi mengurangi pertumbuhan global.