International Investor Club – Di tengah kondisi pasar yang sedang bergejolak, instrumen obligasi masih tetap dipilih oleh sebagian korporasi. Terhitung sejak bulan Maret, setidaknya terdapat lima perusahaan yang telah menerbitkan obligasi.

Kelima perusahaan tersebut adalah Tower Bersama Infrastructure (TBIG), Astra Sedaya Finance, Barito Pacific (BRPT), Bank Victoria, dan Mandala Multifinance. Target dana yang ingin diraup oleh lima perusahaan tersebut mencapai Rp 18,5 Triliun.

Baca Juga: Pasar Obligasi Menunggu Pemangkasan Suku Bunga BI

Obligasi dalam Gejolak Pasar

Obligasi Bond

Wahana Ottomitra Multiartha (WOM Finance) juga dikabarkan tengah melakukan persiapan untuk menerbitkan obligasi sebesar Rp 1 Triliun.

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto melihat prospek obligasi korporasi saat ini akan banyak dipengaruhi oleh suku bunga yang berubah. Suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) yang cukup tertekan tentu akan mempengaruhi yield SBN. Sehingga dengan tingginya suku bunga SBN akan berdampak pada cost of fund di pasar.

Sekedar informasi, Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) mencatat yield SBN seri FR0081 dengan tenor 5 tahun naik dari 6,69% menjadi 6,74% . Sedang yield seri FR0082 dengan tenor 10 tahun juga naik dari 7,48% menjadi 7,57%.

Bila dibandingkan dengan Januari dan Februari, cost of fund saat ini cukup tinggi.

Ramdhan mengatakan tekanan yang dialami oleh pasar akibat virus korona membuat terjadinya koreksi yang signifikan. Apalagi dengan adanya panic-selling.

Baca Juga: Investasi Properti Patungan? Bisa Kok!

Incar Tambahan Dana

Obligasi Indonesia

Ramdhan mengatakan, peningkatan cost of fund kemungkinan akan sedikit tertahan oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan Bank Indonesia. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berakhir pada Kamis (19 Maret), ada potensi BI akan kembali memangkas suku bunga. Mengingat, The Fed juga telah memangkas suku bunga.

Ramdhan menilai dengan menyebarnya virus corona di Indonesia berdampak secara signifikan pada terganggunya sektor industri dan finansial. Dengan risiko yang tinggi tersebut, pasar berekspektasi mengenai bunga yang lebih tinggi. Sehingga cost of fund dari penerbit akan lebih tinggi.

Melihat kondisi itu, Ramdhan melihat investor akan cenderung memilih korporasi yang memiliki obligasi dengan tenor yang pendek. Sehingga, korporasi yang menerbitkan obligasi dengan tenor jangka pendek akan lebih diminati oleh investor.

Dalam memilih obligasi, Ramdhan menyarankan agar investor mempertimbangkan rating dan sejarah dari korporasi penerbit obligasi di tengah kondisi pasar yang sedang bergejolak. Tak lupa, dari sektor industrinya juga patut dipertimbangkan.