Obligasi

International Investor Club – Merujuk data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, hingga 18 Maret 2020 setidaknya Rp 72 Rriliun dana asing sudah keluar dari pasar obligasi negara. Diperkirakan aksi outflow ini masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

Fixed Income Portfolio Manager Sucorinvest Asset Management, Adi Saputra memproyeksikan, keluarnya dana asing ini baru mulai mereda selambat-lambatnya pada akhir Mei 2020. Adi melihat, ada kemungkinan magnitude outflows-nya perlahan akan mulai mengecil.

Baca Juga: Perusahaan Tetap Terbitkan Obligasi Ditengah Gejolak Pasar

Asing Melepas Obligasi di Indonesia

Obligasi

Dalam sajian berita Kontan, Adi mengungkapkan:

“Sepertinya para investor akan mulai sadar dan akan kembali masuk ke pasar SUN Indonesia. Terlepas dari pandemi saat ini, kondisi dan profil makro Indonesia terus membaik, terbukti beberapa lembaga pemeringkat internasional mempertahankan dan menaikkan outlook sovereign rating kita.”

Sementara analis Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), Roby Rushandie melihat bahwa potensi outflow ini berlanjut masih terbuka lebar. Ini karena aktivitas ekonomi dipaksa untuk berhenti atau dibatasi sampai waktu yang belum bisa dipastikan.

Ia mengatakan, “Investor cenderung wait and see setidaknya sampai kuartal III-2020. Saat ini investor juga perlu diyakinkan dengan kebijakan konkrit pemerintah mengangkat sektor riil, karena lockdown paling berimbas ke sektor riil.”

Namun Roby melihat di sisi lain, pasar obligasi akan diuntungkan dengan pemerintah mengeluarkan stimulus fiskal. Karena investor memandang kebijakan tersebut tentu konsekuensinya adalah pembengkakan APBN sehingga ekspektasi penerbitan obligasi meningkat.

Baca Juga: NAB Reksadana Menyusut, Produk Syariah Mengembang

Obligasi - Bond

Robi pun menambahkan, “Sehingga para investor yang mau masuk ke market bisa menjadikan ini peluang karena harga yang lagi rendah-rendahnya. Selain itu yang bisa dilakukan investor tentu pilihannya tahan atau cash position juga.”

Sementara Adi mengungkapkan kepada investor domestik untuk tidak panik berlebihan menyikapi kondisi ini. Justru saat ini menjadi peluang yang baik karena investor bisa investasi ke riskless asset di level yield 10 tahun 8%-8,2%. Dalam sajian berita Kontan, ia mengungkapkan:

“Kami yakin beberapa institusi keuangan domestik akan mulai kembali melirik SUN di level saat ini.”

Adi juga menegaskan sekali pun ada potensi penurunan pada pasar SUN, investor tidak perlu khawatir. Karena Bank Indonesia (BI) juga aktif di pasar sekunder untuk melakukan reverse auction.