KAEF, INAF, dan Klorokuin

International Investor Club – Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan ini, anjlok hingga 4,9% ke level 3.989,52. Namun, ada dua saham BUMN di bidang farmasi, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF) yang malah melambung tinggi.

Saham KAEF kemarin meroket hingga 24,63% menjadi Rp 835 per saham. Sahamnya hari itu diperdagangkan dengan volume sebanyak 32,35 juta unit saham, dengan nilai transaksi Rp 25,94 Miliar, dan frekuensi sebanyak 8.298 kali.

Baca Juga: BBCA, Saham yang Paling Banyak Dijual Asing Per Awal 2020

Kalbe KAEF
Media Indonesia (doc.)

Sementara, dalam sajian KataData dijabarkan, saham Indofarma juga meroket 24,78% menjadi Rp 705 per saham. Total volume saham berkode emiten INAF ini diperdagangkan sebanyak 29,96 juta unit, dengan nilai transaksi Rp 20,04 Miliar, dan frekuensi sebanyak 6.519 kali.

Kedua saham ini pun menjadi bagian dari 68 saham yang hari ini ditutup menguat. Sementara, 332 saham lainnya ditutup di zona merah dan 112 saham stagnan.

Lonjakan saham dua emiten BUMN ini sejalan dengan rencana pemerintah menggunakan obat klorokuin dan avigan untuk melawan virus corona. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir akan meminta Kimia Farma menambah produksi obat klorokuin.

Hingga kini, BUMN farmasi telah memiliki sekitar tiga juta butir klorokuin. DAlam siaran pers yang disajikan dalam berita KataData, Erick mengatakan:

“Kalau satu pasien membutuhkan sekitar 50 butir setidaknya ada 60 ribu pasien yang bisa mendapatkan obat ini. Kalau memang efektif, tentunya Kimia Farma akan memproduksi kembali.”

Baca Juga: NAB Reksadana Menyusut, Produk Syariah Mengembang

INAF
Warta Ekonomi (doc.)

Selain itu, Kementerian BUMN juga bakal mengimpor obat Avigan dari Jepang. Kalau memang dibutuhkan, Kantor BUMN bersama Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo sudah meminta pihak produsen untuk menyediakan obat tersebut untuk Indonesia.

“Avigan sekarang ini sudah diminta oleh banyak negara untuk mengobati mereka yang terjangkit virus corona.”

Sementara itu, menilik sektor properti, Menurut Daniel Djumali, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi), dampak Covid-19 ke sektor properti hingga saat ini belum terlalu besar khususnya untuk segmen menengah bawah maupun kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Dalam sajian berita Rumah.com, Daniel mengungkapkan:

“Kontraksi pasti ada, tapi kami melihat sektor properti ini merupakan sektor riil dan nyata yang menyentuh langsung ke pasar dengan kalangan MBR hingga menengah yang menjadi penopang karena besarnya kebutuhan kalangan ini akan hunian. Ada atau tidak adanya virus orang akan tetap cari hunian, hanya pada situasi ini menjadi lebih berhati-hati.”