International Investor Club – Investor asing keranjingan melepas kepemilikannya atas saham-saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam sebulan terakhir, tiga bank besar tanah air sahamnya diobral dan menjadi pemuncak daftar net foreign sell (nilai jual bersih investor asing).

Ketiga bank Blue Chip tersebut adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Data RTI menunjukkan, net sell asing atas saham BBRI mencapai Rp 1,2 Triliun.Hanya berselisih tipis, di posisi kedua ada BBNI yang catatan net sell asingnya sebesar Rp 1,1 Triliun.

Baca Juga: Prospek Reksadana Pendapatan Tetap Masih Menarik Ditengah Koreksi

Investor Asing dan Saham Blue Chip

Investor Asing dan Saham Blue Chip
Cermati (doc.)

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, emiten bank swasta terbesar di Indonesia, BBCA ada di posisi ketiga dengan net foreign sell sebesar Rp 984,7 Miliar.

Seiring tekanan jual tersebut, harga saham ketiga emiten ini juga ikut terkoreksi.

Saham BBRI sebulan terakhir turun 26,34% ke Rp 3.020 per saham.

Sementara saham BBCA melemah 12,58% ke Rp 27.625 per saham.

Koreksi yang melanda harga saham BBNI menjadi yang terbesar, yakni mencapai 43,82% ke Rp 3.820 per saham.

Baca Juga: Pefindo: Recovery Bond Bisa Beri Dampak Positif ke Pasar Obligasi

Dilirik Investor Asing

IHSG

Namun disisi lain, saham emiten pertambangan emas PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), telah menjadi yang paling banyak menyumbang net buy asing di pasar reguler.

Merujuk data RTI, sepanjang Maret 2020 nilai beli bersih investor asing mencapai Rp 263,9 Miliar.

Jauh lebih besar ketimbang PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang ada di posisi kedua dengan catatan net buy asing Rp 78,3 Miliar.

PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) yang ada di posisi ketiga hanya membukukan net foreign buy sebesar Rp 73,1 Miliar.

Namun sayangnya, catatan tersebut tidak berjalan seiring dengan pergerakan harga saham MDKA. Pada rentang waktu yang sama, harga saham MDKA malah terkoreksi 11,21%. Pada penutupan perdagangan 31 Maret 2020, saham MDKA turun 1,93% ke Rp 1.015.

Meski demikian, jika pergerakan harganya diukur secara year-to-date (ytd 31 Maret 2020), harga saham MDKA hanya turun 6,88%.Kinerja operasional MDKA sendiri sejauh ini tidak terganggu pandemi corona.

Dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan BEI pada 31 Maret 2020, manajemen PT Merdeka Copper Gold Tbk menyampaikan, operasi tambang di Tujuh Bukit dan Wetar masih berlanjut.