Reksadana Saham

International Investor Club – Direktur Utama PT Danareksa Investment Management (Danareksa IM), Marsangap P Tamba menyatakan bahwa ketidakpastian jangka waktu selesainya pandemi COVID-19 telah membuat besaran penurunan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perusahaan yang diakibatkannya tidak dapat diprediksi dengan baik.

Dalam sajian berita Bareksa, Marsangap mengungkapkan, “Prospek kelangsungan ekonomi dan dunia usaha yg tidak menentu juga membuat tingkat yield obligasi bisa meningkat.”

Baca Juga: Analis Revisi Rekomendasi Saham ERAA Karena Penjualan Gadget Rawan Turun

Reksadana Saham Ditengah Koreksi Pasar

Reksadana

Ia menyatakan dalam jangka pendek, produk pasar uang bisa menjadi pilihan untuk investor yang berkepentingan dengan tingkat keamanan modal dan likuiditas yang tinggi. Namun, ia melanjutkan, optimisme bahwa ini akan berakhir di suatu titik juga tetap ada.

Marsangap pun menyampaikan:

“Sehingga untuk investor yang memiliki horizon investasi lebih panjang dan dapat menerima fluktuasi jangka pendek yang tinggi, reksadana saham memberikan entry point sangat menarik saat ini setelah terkoreksi cukup dalam.”

Ia pun mengatakan bahwa reksadana memiliki konsep diversifikasi, jadi secara risiko lebih terkelola. Maka itu investor disarankan terus melakukan investasi.

Marsangap mengatakan terdapat sejumlah produk khususnya dari Danareksa Investment Management yang layak untuk dipertimbangkan untuk bisa dipilih investor. Ia mengatakan:

“Antara lain Mawar untuk big cap, fokus 10 untuk smaller cap, G20 untuk global fund kemudian ada balanced regular income fund di mana memberikan income bulanan yang kompetitif, SPU 2 dan SPU 3 untuk pasar uang.”

Baca Juga: Global Bond Laku Keras, Obligasi RI Meroket

Obligasi Dolar

SUN dan Obligasi

Selain itu, sebelumnya, Pemerintah Indonesia telah mendaftarkan rencana penerbitan obligasi dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS). Ada tiga tenor yang akan diterbitkan yaitu 10,5 tahun, 30,5 tahun, dan 50 tahun.

Mengutip data IFR, awal minggu ini, pemerintah telah memasukkan proposal rencana penerbitan ke US Securities Exchange Commission (SEC). Sebagai gambaran awal, kupon untuk obligasi tenor 10,5 tahun adalah 4,15%, 30,5 tahun di 4,55%, dan 50 tahun di angka 4,9%.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, IFR menyebutkan dalam laporannya:

“Perkiraan rating adalah Baa2/BBB/BBB sesuai dengan yang sudah ada. Proses penentuan harga akan dilakukan hari ini. Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk membiayai upaya penanganan virus corona.”

Untuk obligasi dolar ini, Citigroup, Deutsche Bank (B&D), Goldman Sachs, HSBC, and Standard Chartered Bank akan menjadi joint bookrunners. Sementara Danareksa Sekuritas dan Trimegah Sekuritas Indonesia menjadi co-managers.

Selain itu, Harga obligasi rupiah pemerintah Indonesia pada Selasa kemarin (7 April) telah terkoreksi karena kekhawatiran investor seputar efek wabah virus corona terhadap perekonomian dan kestabilan moneter nasional.