Pajak Reksadana

International Investor Club – Pemerintah telah menggelontorkan sederet stimulus dan relaksasi aturan bagi pelaku industri seiring dampak penyebaran Covid-19, termasuk yang diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bagi manajer investasi (MI) atau pengelola investasi reksa dana.

Stimulus dan relaksasi aturan ini dipandang wajar mengingat penurunan yang terjadi di industri reksa dana. Berdasarkan data OJK dana kelolaan reksa dana telah terpangkas sebesar 65 Triliun atau sekitar 11,74% dari Rp 542 Triliun pada Deseber 2019 menjadi Rp 480 Triliun per 9 April 2020.

Baca Juga: Obligasi RI Diburu Investor Karena Kekhawatiran Resesi Global

Keringanan Pajak Reksadana

Pajak Reksadana
indiatimes (doc.)

Dalam diskusi virtual melalui aplikasi Zoom bertema “Dampak Wabah Corona Terhadap Industri Reksa Dana” yang digelar BeritaSatu Media Holding (BSMH) pada Kamis, 16 April 2020, disampaikan bahwa penurunan kinerja paling dalam terjadi pada jenis reksa dana saham. Sementara aksi redemption (penarikan dana) oleh investor terjadi pada reksa dana pasar uang.

Diskusi ini menghadirkan nara sumber yang terdiri dari Direktur Pengelolaan Investasi OJK, Sujanto lalu Ketua Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia, Prihatmo Hari kemudian Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia, Suheri serta Head of Investment Research PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana.

Dalam kesempatan itu Wawan mengusulkan, untuk meminimalkan aksi penarikan dana investor di masa datang, selain insentif bagi MI, pemerintah dan OJK juga memikirkan insentif bagi investor reksa dana baik investor institusi maupun individu.

Dalam sajian berita Investor Daily disebutkan, Wawan mengungkapkan dalam diskusi tersebut:

“OJK kan sudah memberikan stimulus dan juga rekaksasi untuk para MI, tetapi kalau dari sisi saya sebagai investor pinginnya investor juga dikasi stimulus.”

Baca Juga: Wow! 5 Saham Utama Ini Anti Covid-19 dalam Sebulan Terakhir

Reksa Dana Saham

Reksadana

Selain itu, sebelumnya, Direktur Utama PT Danareksa Investment Management (Danareksa IM), Marsangap P Tamba menyatakan bahwa ketidakpastian jangka waktu selesainya pandemi COVID-19 telah membuat besaran penurunan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perusahaan yang diakibatkannya tidak dapat diprediksi dengan baik.

Dalam sajian berita Bareksa, Marsangap mengungkapkan, “Prospek kelangsungan ekonomi dan dunia usaha yg tidak menentu juga membuat tingkat yield obligasi bisa meningkat.”

Ia menyatakan dalam jangka pendek, produk pasar uang bisa menjadi pilihan untuk investor yang berkepentingan dengan tingkat keamanan modal dan likuiditas yang tinggi. Namun, ia melanjutkan, optimisme bahwa ini akan berakhir di suatu titik juga tetap ada.

Marsangap pun menyampaikan:

“Sehingga untuk investor yang memiliki horizon investasi lebih panjang dan dapat menerima fluktuasi jangka pendek yang tinggi, reksadana saham memberikan entry point sangat menarik saat ini setelah terkoreksi cukup dalam.”