International Investor Club – Emiten pengelola kawasan industri, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk Rp 118,80 Miliar, naik cukup signifikan yakni 189,97% dari periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 48,18 Miliar.

Naiknya laba bersih perseroan juga mendongkrak kenaikan nilai laba per saham menjadi Rp 6 per saham dari sebelumnya Rp 2 per saham.

Baca Juga: PSBB Telah Menghajar Saham-Saham Ini, Siapa Saja Ya?

Kinerja KIJA Terperosot Dalam

KIJA
Jababeka (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, meski memiliki data keuangan yang positif, perseroan justru mencatatkan penurunan penjualan dan pendapatan jasa sebesar 16,88% menjadi Rp 2,25 Triliun dari tahun sebelumnya Rp 2,71 Triliun.

Jika dirinci, beban pokok penjualan dan pendapatan jasa emiten bersandi KIJA ini berhasil diturunkan dari sebelumnya Rp 1,17 Triliun pada akhir Desember 2018 menjadi Rp 843,45 Miliar.

Namun, di pos beban umum dan administrasi mengalami kenaikan menjadi Rp 455,78 Miliar dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp 442,97 Miliar.

Akan tetapi, penghasilan komprehensif KIJA sepanjang tahun 2019 lebih tinggi 16,93% menjadi Rp 134,85 Miliar dibanding sebelumnya Rp 115,28 Miliar.

Hingga periode yang berakhir 31 Desember 2019, total aset perusahaan yang didirikan oleh SD Darmono ini mencapai Rp 12,18 Triliun dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 11,78 Triliun.

Sedangkan liabilitas dan ekuitas pada periode yang sama adalah sebesar Rp 5,87 Triliun dan Rp 6,30 Triliun.

Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham KIJA pada perdagangan Selasa (21 April) terpantau melemah 0,74% ke level Rp 134/saham. Sejak awal tahun, saham Jababeka masih terperosok dalam, 54,11% ,dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 2,79 Triliun.

Baca Juga: Saham BNI Melesat 4,5% Karena Berbagai Sentimen Positif

Urban Jakarta

Urban Jakarta (doc.)

Selain itu, sebelumnya, PT Urban Jakarta Propertindo Tbk (URBN) telah mengakuisisi sebesar 51,01% saham PT Ciptaruang Persada Property (CPP), pemegang saham terbesar dari PT Jakarta River City yang mengembangkan proyek transit oriented development (TOD) di dekat Stasiun Light Rail Transit (LRT) Ciliwung, MT Haryono, Jakarta.

Berdasarkan prospektus yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa kemarin, manajemen URBN menyebutkan besaran nilai saham 51,01% itu setara dengan 576.878 saham dengan nilai nominal Rp 1 Juta.

Adapun nilai akuisisi tersebut setara dengan Rp 633 Miliar berdasarkan PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli). Nilai tersebut mencerminkan 49,99% dari ekuitas perseroan.