International Investor Club – Perlambatan ekonomi akibat pandemi turut menekan bisnis asuransi properti sepanjang tahun 2020 ini. Apalagi permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) terus melambat di tengah wabah virus corona / Covid-19.

PT Asuransi Cakrawala Proteksi Indonesia (ACPI) melihat prospek asuransi properti sepanjang 2020 bakal tertekan. Hal ini tak terlepas dari pengetatan penyaluran KPR di berbagai bank di Indonesia.

Baca Juga: Pernyataan BI Mampu Topang Optimisme Pasar Saham

Asuransi Properti Tertekan

asuransi properti
Realtor (doc.)

Wakil Direktur Utama PT Asuransi Cakrawala Proteksi Indonesia, Nicolaus Prawiro mengatakan bahwa perusahaan akan melihat kondisi pada semester kedua 2020 untuk mengambil langkah merevisi atau tidak di lini bisnis ini.

Dalam sajian berita Kontan, Nicolaus mengungkapkan:

“Kami masih menunggu Juni 2020 dulu, tapi rasanya pasti akan berpengaruh bagi bisnis asuransi properti, karena pengetatan kredit KPR dari bank. Kuartal I-2020 tahun ini turun hampir 20% dibandingkan periode yang sama di 2019 untuk lini bisnis asuransi properti.”

Guna meningkatkan lini bisnis ini, Nicolaus bilang bakal mengoptimalkan penjualan melalui media online, agen, dan broker.

Ia bilang perusahaan mulai fokus mempertahankan premi yang ada. Salah satu caranya adalah memperbanyak jualan di daerah.

Ia menyatakan hingga saat ini, ACPI memiliki 37 kantor cabang yang tersebar luas di seluruh Indonesia.

Yang terbaru, perusahaan membuka kantor cabang di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) guna menggarap potensi di ibu kota negara baru nantinya.

Baca Juga: Efek Corona, Harga Properti Sekunder di Jatim Turun 20%

Dampak dari Pandemi

Jones Day (doc.)

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengatakan bahwa lini bisnis asuransi kendaraan bermotor dan asuransi properti atau harta benda masih menjadi kontributor dominan untuk total premi nasional asuransi umum.

Dalam sajian berita Kontan, Dodu pun mengungkapkan:

“Namun sepertinya akan ada penurunan premi kedua lini bisnis tersebut karena dampak penyebaran Covid-19. AAUI belum bisa menghitung angka-angkanya karena masih belum mendapatkan data triwulan pertama 2020.”

Sebelumnya, AAUI mencatat pendapatan premi kendaraan bermotor tumbuh 0,3% yoy dari Rp 18,67 Triliun menjadi Rp 18,73 Triliun pada akhir 2019.

Adapun pendapatan asuransi properti tumbuh 9,7% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari Rp 19,03 Triliun di 2018 menjadi Rp 20,88 Triliun pada 2019.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pendapatan premi perusahaan asuransi umum Rp 7,69 Triliun pada Januari 2020. Nilai itu masih tumbuh 16,69% secara tahunan dibandingkan Januari 2019 senilai Rp 6,59 Triliun.