International Investor Club – Harga saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) ditutup menguat 340 poin atau 9,04% berada di level Rp 4.100 per saham dipenghujung bulan April ini.

Sepanjang perdagangan diakhir bulan ke empat tahun 2020 ini, harga saham BBNI diperdagangkan di kisaran Rp 3.800 sampai Rp 4.100 per saham. Sebanyak 63,19 Juta lembar saham diperdagangkan dengan nilai Rp 253,38 Miliar.

Baca Juga: Obligasi RI Tertekan Meski Rupiah Memiliki Sentimen Positif

BBNI Meraih Sentimen Hijau

BBNI
Totabuan (doc.)

Selanjutnya, tampak aksi jual dan beli investor domestik mewarnai perdagangan hari ini, dimana aksi beli tercatat sebanyak 24,07% dengan nilai Rp 123 Miliar, sementara aksi jual domestik sebesar 45,55% atau senilai Rp 233 Miliar.

Sementara untuk aksi beli investor asing tercatat sebanyak 25,93% atau 33,3 Juta lembar saham senilai Rp 133,9 Miliar. Adapun untuk aksi jual tercatat hanya 4,45% atau sebanyak 5,7 Juta lembar saham senilai Rp 23 Miliar.

Sebagai informasi, hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik signifikan di hari terakhir perdagangan bulan April. Hal ini ditopang oleh hasil pengujian obat COVID-19 dan penguatan Rupiah yang berada di level Rp 15 ribu per dolar Amerika.

Selain itu, sebelumnya, lembaga pemeringkat global, S&P Global Ratings merevisi outlook (prospek) peringkat tiga bank papan atas Tanah Air yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan Bank BNI menjadi ‘Negatif’ dari sebelumnya ‘Stabil’.

Baca Juga: Perusahaan BUMN Tunda IPO Karena Bursa Terdampak Pandemi

Peringkat S&P Global Ratings

BNN News (doc.)

Dalam pernyataan resminya pada Selasa lalu (29 April), penurunan prospek tiga bank BUMN ini adalah karena meningkatnya risiko ekonomi dalam sistem perbankan Indonesia di tengah pandemi virus corona (Covid-19), yang dapat melemahkan profil kredit bank-bank ini.

S&P juga mengafirmasi atau menegaskan kembali peringkat kredit ketiga bank ini didukung dengan posisi pasar yang kuat, modal yang sehat, dan profitabilitas.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, Pernyataan resmi S&P yang menyatakan:

“Dalam pandangan kami, risiko ekonomi bagi bank-bank Indonesia meningkat karena pandemi Covid-19, yang mempengaruhi [sektor] pariwisata, transportasi, perdagangan, manufaktur, dan investasi di negara ini.”

Selain itu juga dituliskan, “Pandemi juga merugikan konsumsi swasta, yang menyumbang hampir 60% dari PDB Indonesia, mengingat adanya jarak sosial yang diberlakukan untuk menahan wabah [PSBB, pembatasan sosial berskala besar]. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 1,8% pada 2020, dibandingkan dengan 5% pada 2019.”