Properti di Luar Jawa

International Investor Club – Presiden FIABCI Asia Pasifik, Soelaeman Soemawinata mengatakan bahwa pembelian rumah di daerah luar Jawa seperti di Medan dan Palembang tidak akan mengalami penurunan separah di Ibu Kota.

Dalam sajian berita Rumah.com, ia mengungkapkan:

“Turun sudah pasti, tapi tidak akan separah di Jakarta. Pertama, karena kebanyakan di daerah penjualan didominasi ruko, rumah kecil, khususnya subsidi yang kebutuhannya selalu ada.”

Baca Juga: Pengusaha Khawatirkan Kepercayaan Investor Meski Investasi Industri Naik

Pengaruh Pandemi ke Properti di Luar Jawa

Properti

Penjualan properti di daerah juga dinilai bergantung pada mata pencaharian mayoritas warganya. Apabila banyak warganya yang berasal dari kalangan pegawai negeri sipil (PNS), kemungkinan untuk aman lebih tinggi karena setidaknya gaji PNS tetap ada.

Namun ia menjelaskan bahwa penjualan properti di daerah-daerah tersebut tidak terlalu terasa signifikan turunnya karena masyarakat dari beberapa daerah di pulau jawa bukanlah masyarakat yang merupakan pekerja informal.

Namun, tidak begitu terpengaruhnya penjualan properti di daerah belum tentu menjadi pendukung pasar properti secara keseluruhan. Pasalnya, Eman mengatakan bahwa nilai yang dihasilkan dari penjualan rumah tipe kecil hanya berkontribusi sekitar 25% dari nilai keseluruhan properti.

Sementara itu, pasar rumah kelas menengah atas, sewa properti perkantoran, ritel, dan kawasan industri terhenti sama sekali. Pengembang maupun pemilik properti dari yang rata-rata penghasilannya tiap bulan miliaran rupiah sekarang jadi nol. Ia berujar:

“Hal itu tidak bisa menjadi patokan juga kalau permintaan di daerah masih tinggi, tetapi setidaknya pengembang di daerah tersebut tidak mati, bisa tetap survive membiayai pekerjanya.”

Baca Juga: Obligasi RI Tertekan Meski Rupiah Memiliki Sentimen Positif

Kemungkinan Krisis

Prime Nest Realty (doc.)

Dalam sajian berita Rumah.com dijabarkan, Eman menyebutkan bahwa kemungkinan krisis bisnis properti tahun ini bisa mengulang krisis pada 1998.

Untuk bisa kembali naik dan bangkit, pengembang akan perlu waktu cukup panjang, sekitar 1 tahun hingga 2 tahun paling cepat. Ia menambahkan:

“Namun, yang saya yakin, industri properti bisa bangkit lebih cepat dari perkiraan.”

Hanya saja, walaupun begitu ada salah satu hal yang paling terasa tentang turunnya pasar property di luar Jawa adalah bisnis perhotelan.

Menurut konsultan property Colliers International menambahkan bahwa penyebaran dari pandemi Covid-19 ini dirasa mempengaruhi pola dari investasi property di kawasan-kawasan tersebut.

Dalam keterangannya juga ia mengatakan bahwa tekanan yang diciptakan oleh Covid-19 ini adalah banyaknya pembatalan kerja dinas yang harus ditempuh dan juga liburan keluarga hingga lebaran. Hal tersebut dinilai berimbas kepada bisnis property hotel yang mulai sepi oleh pengunjung.