International Investor Club – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pemerintah Inggris akhirnya menerbitkan surat utang negara atau UK Gilt dengan memberikan tingkat suku bunga (yield) yang negatif seiring dengan meningkatnya kekhawatiran akan resesi global akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Selain itu, obligasi negara dengan yield negatif itu juga diterbitkan Inggris dengan ekspektasi bank sentral akan membeli surat utang tersebut mengingat bank sentral adalah salah satu tipe pembeli obligasi yield negatif demi menambah cadangan devisa (cadev).

Baca Juga: Obligasi Indonesia Terbaik Ketiga Pada Kondisi Saat Ini

Obligasi Yield Negatif Inggris

Inggris
WSJ (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, berdasarkan data lelang yang dikeluarkan Debt Management Office (DMO) atau Kantor Management Utang, dikutip CNBC International, Kamis kemarin (21 Mei), Inggris menjual UK Gilt tenor 3 tahun senilai 3,8 Miliar Poundsterling atau setara dengan $ 4,66 Miliar (Rp 69 Triliun, asumsi kurs Rp 14.900/US$) dengan yield negatif 0,003%.

Yield negatif ini berarti pemerintah Inggris secara efektif justru dibayar untuk menerbitkan surat utang negara ini. Sama halnya di bank sentral yang menerapkan suku bunga negatif, artinya bank sentral akan mengenakan biaya kepada bank apabila suatu bank tertentu menempatkan uang dalam deposito bank sentral.

Dengan kata lain, sebuah bank justru harus membayar (bukan menerima) bunga ke bank sentral jika mereka menempatkan kelebihan dananya pada deposito di bank sentral.

Biasanya tujuan kebijakan bunga negatif ini agar mendorong nasabah tidak hanya menempatkan dana di deposito, tapi aktif juga menginvestasikan dana ke sektor lain yang lebih berisiko.

Untuk obligasi bunga negatif ini, investor akan mendapatkan kembali dana mereka yang lebih rendah dari apa yang bayarkan di awal jika mereka memegang obligasi tersebut hingga jatuh tempo.

Baca Juga: DIRE Ciptadana Properti Ritel Bagikan Dividen Kedua

BoE dan Suku Bunga

Sterling dan Bank of England BOE

Dengan penerbitan obligasi yield negatif ini membuat Inggris bergabung dengan Jerman, Jepang dan beberapa negara Eropa lainnya dalam menjual utang pemerintah dengan yield negatif.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, sebelumnya Bank of England (BoE) memangkas suku bunga utamanya ke rekor terendah 0,1% pada Maret dan memulai tambahan pembelian obligasi senilai 200 Miliar Poundsterling, sebagian besar berbentuk UK Gilts, untuk program pelonggaran kuantitatif.

Agustus tahun lalu, Jerman juga merilis obligasi yield negatif dengan tenor 30 tahun. Dengan diterbitkan dengan yield negatif, tepatnya pada angka -0,11%, artinya investor obligasi Jerman senilai 869 juta euro tersebut rela tidak diberi kupon rutin oleh si penerbit hingga jatuh tempo bahkan membelinya di harga premium dari nilai nominalnya.

Dengan demikian, masih dibelinya obligasi tanpa kupon dan dibeli di harga tinggi itu menandakan investor masih memprediksi kondisi ekonomi akan lebih buruk dan lebih terkontraksi sehingga mengangkat harga obligasi sekaligus menekan yield-nya, dan berarti si pemilik efek utang itu dapat menjual portofolionya itu dengan harga yang lebih tinggi lagi di kemudian hari.