International Investor Club – Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menyoroti beberapa perusahaan tercatat (emiten) yang dinilai berpotensi terdepak (delisting) dari papan bursa seiring dengan lamanya periode suspensi atau penghentian sementara sahamnya lebih dari 12 bulan.

BEI sudah menegaskan ultimatumnya kepada emiten-emiten tersebut. Beberapa kriteria yang dipertimbangkan untuk melakukan delisting paksa di antaranya belum terpenuhinya syarat kepemilikan publik (refloat) dan kondisi keuangan perusahaan yang belum membaik.

Baca Juga: PTBA Akan Melakukan BuyBack Saham Tanpa RUPS, Mengapa?

Daftar Emiten yang Dipantau BEI

BEI

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, inilah beberapa emiten yang terancam delisting yang dirangkum dari keterbukaan informasi BEI:

1. PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL)

Saham Bakrie Telecom berpotensi terdepak dari papan perdagangan Bursa seiring dengan saham perseroan telekomunikasi Grup Bakrie ini yang telah disuspensi atau dihentikan sementara selama 12 bulan. Masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada 27 Mei 2021.

Pengumuman BEI menuliskan:

“Bursa meminta kepada publik untuk memperhatikan dan mencermati segala bentuk informasi yang disampaikan oleh emiten terkait.”

BEI menyatakan bahwa Bursa dapat menghapus saham perusahaan tercatat apabila si emiten mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha emiten tersebut, baik secara finansial atau secara hukum, atau terhadap kelangsungan status emiten sebagai perusahaan terbuka, dan tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.

BEI juga bisa menghapus saham emiten yang terkena suspensi di Pasar Reguler dan Pasar Tunai dan hanya diperdagangkan di Pasar Negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

2. PT Kertas Basuki Rachmat Tbk (KBRI)

BEI mengingatkan saham produsen emiten kertas, Kertas Basuki Rachmat, berpotensi didepak dari papan perdagangan di bursa secara paksa (force delisting) seiring dengan kondisi perusahaan yang telah memenuhi kriteria delisting.



Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 1 BEI Adi Pratomo Aryanto dan Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan Irvan Susandy mengatakan, sebelumnya melalui Pengumuman Bursa No: Peng-SPT-00008/BEI.PP1 telah menghentikan sementara perdagangan saham perseroan pada 23 April 2019.

BEI mengingatkan, perseroan dapat dihapuskan pencatatan sahamnya dari bursa bila mengalami kondisi yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat sesuai dengan ketentuan III.3.1.1.

Selain itu, BEI akan otomatis mendepak perusahaan dari bursa bila disuspensi (dihentikan sementara perdagangan sahamnya) selama 24 bulan.

“Sehubungan dengan hal tersebut, maka perseroan telah disuspensi selama 12 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada 23 April 2021,” tulis pengumuman bursa.

Baca Juga: Obligasi RI Kembali Diminati Karena Optimisme New Normal

Lanjutan

Saham BUMN

3. PT Nipress Tbk (NIPS)

Saham emiten produsen aki kendaraan bermotor, Nipress, berpotensi dihapuskan pencatatannya di BEI.

Informasi ini disampaikan Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 3 Goklas Tambunan dan Kepala Divisi Pengaturan dan Perdagangan, Irvan Susandy, dalam surat pada 13 Maret 2020.

Pertimbangan potensi delisting ini mengacu pada pengumuman BEI No.: Peng-SPT-00008/BEI.PP3/07-2019 tanggal 1 Juli 2019 perihal Penyampaian Laporan Keuangan Auditan yang berakhir 31 Desember 2018 dan Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan dan Pencatatan Kembali Saham di Bursa.

Dalam surat itu, disebutkan, perseroan mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat, baik secara finansial atau secara hukum terhadap kelangsungan status perusahaan tercatat sebagai perusahaan terbuka.

4. PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA)

Saham emiten konsumer Tiga Pilar Sejahtera ini juga terancam delisting Dari BEI pada 2020. Hal tersebut berkenaan dengan telah dihentikan perdagangannya (suspensi) selama 2018.

Berdasarkan surat yang disampaikan oleh Kepala Divisi Penilaian Perusahaan BEI Adi Pratomo Aryanto dan Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI Irvan Susandy, saham AISA berpotensi di-delisting karena sudah hampir melewati masa maksimal suspensi, yakni 24 bulan pada 5 Juli 2020.

Selain karena masa suspensi yang panjang, perusahaan ini juga dinilai mengalami kondisi yang secara signifikan mempengaruhi kelangsungan usaha secara signifikan. Bahkan hingga saat ini tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.

Saat ini manajemen AISA menyatakan telah melakukan restrukturisasi atas tiga surat utangnya yang telah dan akan jatuh. Langkah restrukturisasi yang diambil adalah dengan perpanjangan tenor, penurunan tingkat bunga dan konversi kepemilikan surat utang menjadi saham.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan ke BEI, disebutkan tiga surat utang tersebut adalah Obligasi TPS Food I Tahun 2013 dengan pokok sebesar Rp 600 Miliar. Obligasi ini seharusnya telah jatuh tempo pada 5 April 2019.

Selain itu, dalam sajian berita CNBC Indonesia juga menjabarkan, ada saham PT Akbar Indo Makmur Stimec Tbk (AIMS), PT Triwira Insanlestari Tbk (TRIL), dan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) yang telah masuk pertimbangan regulator untuk di delisting.

Apakah pembaca ada memiliki salah satu atau beberapa saham yang terancam Delisting diatas? Pembaca bisa memantau terus dan mengkontak bursa untuk kejelasan kepemilikan Anda.