International Investor Club – Maskapai penerbangan berbiaya rendah (low cost carrier) terbesar di Asia Tenggara, AirAsia Group Berhad, berencana untuk mengurangi jumlah tenaga kerja hingga 30% seiring dengan rencana sang pendiri, Tony Fernandes, yang mempertimbangkan untuk melepas 10% saham perusahaan untuk mendapatkan dana segar.

AirAsia saat ini memang tengah dirundung tekanan cukup berat yang juga menimpa industri penerbangan secara global akibat pandemi Covid-19.

Baca Juga: BBTN Melesat, Salah Satu Faktor Utamanya adalah BuyBack

AirAsia Lepas Saham

AirAsia
Destinasian (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, grup ini pun bahkan memangkas sisa gaji para staf hingga mencapai 75% guna bertahan di tengah hantaman dampak Covid-19 ini.

Efisiensi ini mencakup pengurangan 60% dari awak kabin dan pilot AirAsia dan afiliasinya, termasuk AirAsia X. Grup AirAsia kini beroperasi di Malaysia, Thailand, Indonesia, Jepang, India, dan Filipina.

Hampir 20.000 karyawan Grup ini sudah dievaluasi kembali secara individual sejak Januari berdasarkan skala gaji dan kinerja, dan gelombang PHK diperkirakan masih terus berlanjut hingga akhir Juli.

Beberapa sumber dari Asia Nikkei mengungkapkan bahwa maskapai ini, di mana porsi mayoritas saham dipegang Tony Fernandes, berpotensi menjual 10% saham baru guna mendapatkan dana segar. Kabarnya tiga konglomerasi Korea Selatan, yang dipimpin SK Corp, akan menyerap saham baru tersebut.

Penjualan saham baru AirAsia tidak akan memerlukan persetujuan dari rapat umum pemegang saham karena pemegang saham telah diberi mandat bagi AirAsia untuk meningkatkan jumlah saham baru hingga 10% pada rapat pemegang umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 27 Juni 2019.

Baca Juga: Obligasi Negara Bangkit saat Investor Asing Masuk Rp14,39 Triliun

Aksi Korporasi

Panorama Destination (doc.)

Surat kabar Malaysia, The Star, melaporkan bahwa konglomerat terbesar ketiga di Korea Selatan, SK Corp, berpotensi menyerap penerbitan saham baru AirAsia dengan harga 1 ringgit. Aksi korporasi ini bakal menarik dana hingga $ 78,4 Juta atau sekitar Rp 1,09 Triliun (asumsi kurs Rp 14.000/USD) untuk maskapai ini.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, mengacu data perdagangan Jumat (5 Juni), saham AirAsia di Bursa Kuala Lumpur (KLSE) diperdagangkan di level RM 0.86 /saham.

Aksi korporasi penerbitan saham baru ini akan dilakukan dengan skema penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (Non-HMETD) alias private placement.

SK Corp, yang fokus bisnisnya di industri energi dan telekomunikasi melalui 95 anak perusahaannya, membukukan pendapatan $ 213,6 Miliar atau Rp 2.990 Triliun pada tahun lalu dan didukung oleh aset senilai $ 257,9 Miliar atau Rp 3.611 Triliun.

Sementara itu, karyawan yang tersisa juga menerima kebijakan pemotongan gaji berkisar antara 15% -75%. Fernandes pun memangkas pengeluaran modal AirAsia, dan modal kerja semua maskapai yang beroperasi dalam grup ini.

Fernandes dan co-founder maskapai, Kamarudin Meranun, bahkan sudah setuju tidak mengambil gaji mereka dalam jangka menengah di tengah situasi sulit ini.