International Investor Club – Sepanjang bulan lalu, industri reksadana masih tertekan seiring kondisi perekonomian yang belum stabil akibat pandemi virus Covid-19.

Berdasarkan data OJK per akhir Mei 2020, unit penyertaan reksa dana turun menjadi 405,71 miliar unit dari yang posisi April 408,65 miliar unit.

Adapun jumlah transaksi yang terjadi sepanjang periode yang sama tercatat menurun. Jumlah pembelian atau subscription reksadana sepanjang Mei hanya Rp 29,11 Triliun, turun dari bulan sebelumnya yang mencapai Rp 36,91 Triliun.

Baca Juga: Diaspora Bond Dirilis November, Bersiap Nabung Guys!

Reksadana Masih Belum Dilirik

Reksadana

Dalam sajian berita Bisnis dijabarkan, sementara untuk penarikan atau redemption juga ikut menurun, menjadi Rp 33,01 Triliun dari semula Rp 36,07 Triliun. Adapun, jika dilihat berdasarkan data tersebut, pada Mei terjadi net redemption sebesar Rp 3,89 Triliun.

Direktur Utama BNI Asset, Reita Farianti menuturkan bahwa investor cenderung memindahkan dananya ke kelas aset yang lebih aman atau safe haven seperti obligasi pemerintah AS, mata uang dolar AS, dan emas.

Kepada Bisnis, Reita mengungkapkan:

“Tren global ini juga berdampak pada appetite investor domestik yang lebih memilih likuiditas dengan mengamankan dananya dulu, dibandingkan masuk ke reksadana.”

Direktur Sinarmas Asset Management, Jamial Salim mengatakan bahw menurunnya angka pembelian reksa dana disebabkan investor masih belum melihat adanya perkembangan positif dari data kasus baru Covid-19.

“Ini market reli baru seminggu terakhir, investor masih ada keraguan mengenai dibukanya PSBB.”

Baca Juga: 11 Obligasi Bernilai Total Rp 7,18 T akan Jatuh tempo Bulan Ini

Pandangan MI Terhadap Reksa Dana

Unitlink dan Reksadana

Meski demikian, Jamial mengaku masih optimistis pembelian reksa dana akan kembali naik seiring pasar yang terus reli sehingga membuat tingkat kepercayaan diri investor ikut terangkat.

Head Of Investment Avrist Asset Management, Farash Farich pun menilai sejauh ini rebound pasar masih berdasarkan ekspektasi pemulihan ekonomi dan bisnis yang lebih cepat dari perkiraan serta mulai diterapkannya adaptasi ke kenormalan baru.

Maka dari itu, Farash menyebut investor akan cenderung menahan ekspektasinya karena kenaikan pasar belum berdasarkan realisasi fundamental bisnis. Namun, sepanjang valuasi masih rendah sebenarnya investor masih bisa investasi terus berkala.

Dalam sajian berita Bisnis, Farash mengungkapkan:

“Prinsipnya bahwa hasil investasi saham dan obligasi akan optimal di jangka panjang, sedangkan dalam jangka pendek tetap bisa bervariasi.”

Untuk mendapatkan hasil maksimal, dia menyebut investor dapat melirik reksa dana saham baik yang berbasis indeks atau pun strategi aktif, karena valuasinya cenderung masih rendah saat ini.