International Investor Club – Pemerintah memutuskan untuk mempercepat jadwal penawaran obligasi negara ritel seri ORI017 menjadi 15 Juni hingga 9 Juli mendatang. Semula seri ini akan ditawarkan pada Oktober 2020.

Fixed Income Portfolio Manager Sucorinvest Asset Management, Adi Saputra menilai bahwa keputusan pemerintah untuk menggeser jadwal penawaran ORI017 sudah sesuai jika melihat kondisi saat ini.

Dia melihat, pemerintah memang masih butuh dana untuk keperluan pengeluaran termasuk mungkin untuk pemulihan ekonomi karena pandemi virus Covid-19.

Baca Juga: Mayapada Bersiap Rights Issue 2,27 Miliar Saham

ORI017 Ditawarkan

ORI017
Bisnis (doc.)

Dalam sajian berita Kontan, Adi mengungkapkan:

“ORI itu kan size-nya lebih gede dibanding obligasi retail lainnya karena sekali terbit bisa kantongi Rp 6 Triliun-Rp 8 Triliun sementara obligasi ritel yang lain di bawah angka itu.”

Sementara itu, analis Fixed Income MNC Sekuritas, Made Adi Saputra menyebut bahwa pergeseran ini sebagai strategi pemerintah dalam mengatur strategi refinancing. Pasalnya, ORI memiliki tenor yang lebih panjang, yakni tiga tahun, dibanding saving bond ritel (SBR) yang punya tenor dua tahun. Ia mengungkapkan:

“Setahun hingga dua tahun ke depan pemerintah harus membayar SBN yang akan banyak jatuh tempo. Dengan ORI yang punya tenor tiga tahun, pemerintah tidak akan semakin menambah beban cost of fund mereka pada setahun dua tahun ke depan.”

Baca Juga: Investor Masih Enggan Sentuh Reksadana, Apa Kata Manajer Investasi?

Besaran Kupon

Obligasi

Pemerintah akan mengumumkan besaran kupon ORI017, target, beserta strukturnya pada hari Kamis ini. Namun, Adi melihat untuk pricing kupon ORI017, besarannya tidak akan banyak jauh berbeda dibanding ORI016. Asal tahu saja, besaran kupon ORI016 saat itu sebesar 6,80%.

Dalam sajian berita Kontan, ia mengungkapkan:

“Yield acuan untuk ORI017 tidak terlalu berbeda dibanding waktu penerbitan ORI016, perkiraan saya masih akan di kisaran 6,8%-7%. Cuma masalahnya saat ini apakah masyarakat masih ada appetite untuk berinvestasi, di tengah pandemi seperti ini di mana likuiditas alias cash menjadi sangat penting sekali.”

Oleh karena itu, Adi menilai masalah tersebut harus jadi perhatian pemerintah dalam penentuan besaran kupon agar tetap menarik. Adi menyebut jika target pemerintah di kisaran Rp 5 Triliun – Rp 7 Triliun masih cukup realistis.

Sementara Made menilai jika mengacu besaran rate obligasi pemerintah tenor tiga tahun yang ada di kisaran 6,4%, ia memproyeksikan besaran kupon ORI017 ada di kisaran 6,75%-7%.