SUN dan Obligasi

International Investor Club – Investor obligasi disarankan melakukan aksi beli (buy) dengan catatan apabila harga obligasi naik melebihi rentang 35-75 basis poin (bps). Harga obligasi hari ini pun diprediksi menguat pada perdagangan hari ini (17 Juni).

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas, bersama timnya, mengatakan bahwa secara analisis teknikal, pasar obligasi mulai memasuki fase konsolidasi, namun secara momentum seharusnya pasar obligasi mengalami pelemahan.

Baca Juga: Penawaran ORI17 Resmi Dibuka, Investasi Mulai dari Rp1 Juta, Minat?

Lelang SUN

SUN dan Obligasi

Dalam sajian berita CNBC Indonesia idjabarkan, hanya saja secara sentimen mungkin masih akan mengalami penguatan. Dalam riset hariannya, Nico dan tim mengungkapkan:

“Jadi teman-teman diharapkan untuk berhati-hati karena pasar sangat dinamis saat ini. Kami merekomendasikan beli hari ini apabila pergerakan kenaikan harga obligasi melebihi rentang 35 – 75 bps.”

Dari dalam negeri, kabar datang dari lelang Surat Utang Negara (SUN) yang dilakukan pemerintah, dalam mata uang rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2020. Total penawaran yang masuk sebesar Rp 84,8 Triliun dan total yang dimenangkan sebesar Rp 20,5 Triliun mengacu data Ditje Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko Kementerian Keuangan.

Seri SUN yang dilelang Selasa kemarin adalah seri SPN03200917 (tenor 3 bulan), SPN12210304 (tenor 9 bulan), FR0081 (tenor 5 tahun), FR0082 (tenor 10 tahun), FR0080 (tenor 15 tahun), FR0083 (tenor 20 tahun) dan FR0076 (tenor 28 tahun).

Baca Juga: Mal Kembali Dibuka, Emiten Properti Optimistis Bisa Perbaiki Kinerja

Investor Asing Obligasi
Pasardana ID (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, lelang SUN tersebut dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI). Lelang bersifat terbuka (open auction), menggunakan metode harga beragam (multiple price).

Seri acuan yang paling diminati investor adalah yang bertenor pendek, terlihat dari tabel di atas, seri FR0082 tenor 10 tahun mencapai Rp Rp 36,31 Triliun sedangkan seri FR0081 tenor 5 tahun mencapai Rp 30,91 Triliun.

Mengacu dari hasil lelang yang masuk, investor cukup optimis terhadap aset pendapatan tetap (fixed income) ini. Hal tersebut terlihat dari permintaan yang masuk melewati target indikatif. Artinya minat investor terhadap obligasi pemerintah cukup baik, dengan kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 4,2 kali.

Sementara pada lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Selasa lalu (9 Juni) terjadi oversubscribed sebanyak 4,1 kali, yang tercermin dari permintaan yang masuk senilai Rp 28,64 Triliun, dan pemerintah memenangkan sebesar Rp 9,5 Triliun dari enam seri SBSN yang dilelangkan, dengan target indikatif Rp 7 Triliun.

Kemarin, harga obligasi rupiah pemerintah Indonesia melemah merespons pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menegaskan bahwa 2020 adalah tahun yang luar biasa. Bukan dalam konteks yang positif, tetapi tantangannya yang sangat besar.