Payfazz dan Efek Pandemi

International Investor Club – Perlahan namun pasti, banyak perusahaan harus melakukan adaptasi seiring masih berlangsungnya pandemi Covid-19. Dan efek pandemi ini pun telah ‘menyenggol’ startup fintech Payfazz.

Startup ini beradaptasi dengan mengurangi pengeluaran baik dari jumlah tenaga kerja, biaya IT, dan lainnya agar terus beroperasi dan tetap mencetak keuntungan.

Baca Juga: Izidok Kembangkan Layanan e-Rekam Medis, Apa Fungsinya?

Payfazz Beradaptasi

Payfazz
Nomor Telepon ID (doc.)

Dalam sajian berita KataData, melalui keterangan resmi, CEO Payfazz, Hendra Kwik mengatakan bahwa perusahaan tak luput dari dampak penurunan ekonomi dunia, yang akhirnya menuntut perusahaan untuk beradaptasi, di antaranya dengan efisiensi.

Berbagai cara telah dilakukan perusahaan dalam kondisi saat ini, namun menurutnya hal tersebut belum cukup menopang kinerja perusahaan untuk tetap berkesinambungan.

Oleh karena itu perusahaan harus mengambil pilihan terakhir untuk mengalokasikan alokasi dana dan sumber daya di sektor yang sustainable, serta berhubungan dengan visi perusahaan yang berfokus pada small business, financial services, dan digital banking.

Hendra pun mengungkapkan:

“Hal ini menjadi keputusan senior manajemen yang sulit selama Payfazz berdiri sejak 2016. Keputusan berat ini harus diambil untuk bisa mempertahankan keberlangsungan perusahaan di masa yang akan datang.”

Baca Juga: Mal Kembali Dibuka, Emiten Properti Optimistis Bisa Perbaiki Kinerja

Apa yang Dilakukan?

Global Health News Wire (doc.)

Secara terpisah, saat ditanyakan lebih dalam oleh DailySocial, Hendra menerangkan peningkatan pendapatan perusahaan dilakukan dengan cara mengoptimalkan penjualan dengan penyesuaian harga layanan dan biaya layanan, serta efisiensi biaya perusahaan.

“Sebagai dampaknya, terlihat gross profit perusahaan menunjukkan angka positif dan terus naik dari waktu ke waktu.”

Perihal pengurangan 10% tenaga kerja, Hendra menyebut perusahaan mengambil keputusan untuk penataan dan pemfokusan ulang sehingga perlu adanya pengurangan tenaga kerja profesional agar perusahaan tetap menjadi bisnis yang berkelanjutan. Sebelum efisiensi, jumlah tenaga kerja di Payfazz mencapai 600 orang.

Akan tetapi ia tidak merinci tim bagian apa saja yang terkena efisiensi. Ia menyebut pengurangan dilakukan untuk bisnis non-inti dan bisnis yang banyak kontak fisik dengan pengguna, sehingga tidak memungkinkan untuk jaga jarak fisik. Ia pun mengatakan:

“Kami berusaha sebaik mungkin untuk tetap mendukung karyawan kami yang terkena pengurangan dengan memberikan haknya sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku.”

Bentuk benefit yang diberikan, antara lain gaji penuh untuk bulan Juni 2020, paket pesangon, paket penghargaan sesuai masa kerja, paket penggantian hak cuti, dan asuransi kesehatan hingga Oktober 2020. Selain itu, perusahaan memberikan bantuan untuk layanan karier bagi karyawan yang terdampak.

Hendra berharap pengambilan keputusan berat ini menjadi terakhir. Ia tidak menginginkan hal ini terjadi di masa depan. Saat ini perusahaan tetap fokus meningkatkan pendapatan, sehingga profit perusahaan tetap stabil walaupun di tengah krisis sekalipun. Harapannya perusahaan dapat terus berkelanjutan dalam jangka panjang.