International Investor Club – Harga obligasi rupiah pemerintah Indonesia pada hari Senin kemarin (22 Juni) menguat yang didorong oleh aksi penghindaran risiko (risk aversion) investor di tengah kekhawatiran gelombang kedua serangan virus corona.

Berdasarkan catatan dari Worldometers pada hari Minggu kemarin (21 Juni), jumlah pasien yang terkonfirmasi positif corona secara global kembali memecahkan rekor dengan jumlah pasien positif 130 ribu lebih orang.

Baca Juga: Obligasi Negara Dinilai Lebih Aman dari Obligasi Korporasi Karena Minim Risiko

Obligasi RI Kembali Dilirik

Obligasi - Bond

Data Refinitiv menunjukkan penguatan harga surat utang negara (SUN) tercermin dari tiga seri acuan (benchmark). Ketiga seri tersebut adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun dan FR0083 bertenor 20 tahun, sementara FR0080 bertenor 15 tahun justru melemah.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, seri acuan yang paling menguat kemarin adalah FR0081 yang bertenor 5 tahun dengan penurunan yield 3,90 basis poin (bps) menjadi 6,697%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield menjadi acuan keuntungan investor di pasar surat utang dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) juga menguat. Indeks tersebut naik 0,22 poin atau 0,08% menjadi 277,42 dari posisi kemarin 277,20.

Penguatan di pasar surat utang hari ini tidak senada dengan pelemahan rupiah di pasar valas. Pada hari Senin ini (22/6/2020), Rupiah melemah 0,43% dari penutupan sebelumnya. Kini $ 1 dibanderol Rp 14.110/USD di pasar spot.

Baca Juga: Dirut Krakatau Steel Menjual Seluruh Saham Miliknya, Kenapa?

Cerminan dalam Pasar

Obligasi Bond

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, dari pasar surat utang negara maju dan berkembang terpantau menguat, yang kesemuanya hampir mencatatkan penurunan tingkat yield, kendati bervariatif.

Surat utang negara yang paling menguat yaitu Thailand, yang mengalami penurunan tingkat yield sebesar 2,50 basis poin (bps). Sementara yang paling melemah yaitu surat utang negara Afrika Selatan dengan kenaikan tingkat yield 8,00 bps.

Hal tersebut mencerminkan investor global kembali masuk aset pendapatan tetap (fixed income) Tanah Air di tengah penghindaran aset berisiko (risk aversion).