International Investor Club – Harga obligasi rupiah pemerintah Indonesia pada Kamis kemarin (9 Juli) telah bergerak menguat karena terdorong oleh kecenderungan penghindaran aset berisiko (risk appetite) oleh investor akibat lonjakan kasus virus corona yang meningkatkan kekhawatiran.

Hal ini tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup di zona merah dengan penurunan sebesar 23,4 poin atau 0,46% ke level 5.052,79 pada Kamis kemarin.

Baca Juga: Lo Kheng Hong Ternyata Juga Beli Reksadana Loh!

Obligasi Kembali Diminati

Obligasi Indonesia

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, data Refinitiv menunjukkan penguatan harga surat utang negara (SUN) tercermin dari tiga seri acuan (benchmark). Ketiga seri tersebut adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, FR0080 bertenor 15 tahun, sementara FR0083 bertenor 20 tahun justru melemah.

Seri acuan yang paling menguat hari ini adalah FR0082 yang bertenor 10 tahun dengan penurunan yield 6,60 basis poin (bps) menjadi 7,129%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya.

Yield menjadi acuan keuntungan investor di pasar surat utang dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

Baca Juga: TLKM Melonjak Hampir 2% Pasca Buka Blokir Netflix

Apresiasi Pasar

Obligasi Bond

Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) juga menguat. Indeks tersebut naik 0,51 poin atau 0,18% menjadi 280,53 dari posisi kemarin 280,02.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, penguatan di pasar surat utang kemarin senada dengan penguatan rupiah di pasar valas. Pada hari Kamis, rupiah menguat 0,17% dari penutupan sebelumnya. Kini $ 1 dibanderol Rp 14.323/USD di pasar spot.

Ketika ketidakpastian ekonomi terjadi akibat pandemi virus corona yang dapat berujung ke jurang resesi, maka investor cenderung menghindari aset berisiko untuk sementara waktu dan memilih aset yang minim risiko seperti aset pendapatan tetap (fixed income) ini.

Outlook investor pada akhirnya akan tetap berkiblat ke kondisi ekonomi global, sehingga bias-bias dalam negeri sepatutnya tidak begitu dijadikan faktor dominan dalam keputusan investasi karena “Wait and See” akan bisa menjadi piliha bijak dibandingkan Anda ‘menyelam’ terlalu cepat kedalam gelombang yang belum terprediksi dengan baik. Salam.