International Investor Club – Aplikator properti Kuncii Robby S Irawan mengatakan Pandemi Covid-19 merupakan waktu yang tepat untuk berinvestasi di bidang properti.

Alasannya, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen berdasarkan rapat dewan gubernur (RDG) 19-20 Februari 2020.

Selanjutnya, pada RDG 18-19 Maret 2020, BI-Rate kembali turun 25 bps menjadi 4,50 persen.

Baca Juga: Amar Bank Memperkenalkan Aplikasi Senyumku, Apa Itu?

Investasi Properti di Tengah Pandemi

Properti

Semua hal yang disebutkan diatas adalah upaya untuk memulihkan ekonomi yang berdampak pada upaya untuk membangkitkan sektor properti.

Dalam sajian berita Kompas, Robby mengungkapkan:

“Selain menurunkan suku bunga, pemerintah berupaya memulihkan perekonomian dengan skenario new normal. Jadi kondisi itu yang membuat saat ini waktu yang tepat investasi properti.”

Robby berpendapat, pengembang properti kini tengah dihadapkan pada tantangan yang demikian sulit, karena itu mereka harus mencari terobosan untuk mengembalikan penjualan kepada situasi normal.

Sekarang, lanjut Robby, bukan zamannya lagi bagi pengembang jual mahal. Mereka harus menjual produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar dengan cara-cara inovatif dan kreatif.

Sementara di sisi konsumen, dia menyarankan, agar pasangan muda atau calon pembeli yang baru pertama kali membeli rumah harus pintar-pintar memilih lokasi.

Baca Juga: Program Perumahan Tahun 2021 Rp 7,48 Triliun, Mari Kita Ulas!

Kriteria Pembelian Rumah

Properti

Dalam sajian berita Kompas, Robby pun mengungkapkan:

“Semua developer bilang, lokasi yang mereka bangun merupakan yang terbaik. Tapi apakah benar itu lokasinya terbaik? Lokasi terbaik itu harus dapat diakses dan dekat dengan pusat kegiatan.”

Jarak tempuh antara perumahan yang dekat dengan kantor pemerintahan, pusat kesehatan, pendidikan dan perbelanjaan, juga harus menjadi pertimbangan.

Robby mengingatkan konsumen yang seringkali terjebak membeli rumah murah tapi harga jualnya tidak kunjung naik. Ia pun mengungkapkan:

“Lebih baik beli agak mahal tapi nilai jualnya cepat naik. Hal ini ditentukan oleh kualitas bangunan dan lokasi.”

Oleh karena itu, sebelum membeli properti, masyarakat harus belajar dari perilaku dan preferensi Generasi Z yang dinilai Robby lebih dewasa daripada generasi milenial.

Ia juga mengatakan:

“Generasi Z itu sudah sangat sadar bahwa rumah merupakan kebutuhan. Sementara generasi milenial lebih mementingkan gaya hidup. Akhirnya mereka (milenial) sadar telah salah pilih rumah.”