International Investor Club – Lembaga pemeringkat Fitch Ratings mengerek peringkat emiten properti PT Modernland Realty Tbk (MDLN) dari ‘RD’ (restricted default) menjadi CC seiring dengan restrukturisasi obligasi perusahaan senilai Rp 150 Miliar.

Restrukturisasi membuat Modernland baru akan membayar pokok obligasi 7 Juli 2021 dari semula 7 Juli 2020. Namun, Fitch menilai kondisi likuiditas Modernland belum tentu mengalami perbaikan masih dihadapkan pada kewajiban pembayaran kupon atas surat utang lain yang diterbitkan.

Baca Juga: Pencarian Properti Kembali Pulih di Masa New Normal Ini

Perpanjangan Jatuh Tempo Obligasi MDLN

MDLN
Kontan (doc.)

Peringkat ‘CC’ pada MDLN tetap mencerminkan likuiditas yang buru, dan kemungkinan gagal bayar dalam waktu dekat. Fleksibilitas keuangan perusahaan juga dianggap telah berkurang dan terhambat oleh pelemahan ekonomi sehingga menyebabkan likuiditas MDLN terus memburuk.

Dalam siaran pers yang ada disajian berita Bisnis, analis Fitch mengungkapkan:

“Likuiditas MDLN tetap buruk dan perusahaan cenderung menghadapi tantangan signifikan untuk membayar obligasi dan pembayaran bunga, termasuk pembayaran kupon sebesar $ 8 Juta untuk surat utang yang akan jatuh tempo 30 Agustus 2020.”

Karenanya, Fitch juga yakin kemungkinan opsi restrukturisasi akan diambil perseroan untuk obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat.

Lembaga tersebut juga telah meningkatkan peringkat surat utang senilai $ 150 Juta yang akan jatuh tempo pada tahun 2021 dan obligasi senilai $ 240 Juta yang akan jatuh tempo pada April 2024 mendatang menjadi ‘CC’ dari ‘C’ dengan rating pemulihan (recovery rating) ‘RR4’.

Baca Juga: TRIO Berpotensi Dipaksa Delisting Dari Bursa, Kenapa?

Kondisi Perusahaan

Rivan Kurniawan (doc.)

Dalam sajian berita Bisnis dijabarkan, obligasi tersebut dikeluarkan oleh anak usaha milik MDLN yakni JGC Ventures Pte. Ltd. Dan Modernland Overseas Pte Ltd yang masing-masing dijamin oleh perseroan dan beberapa anak perusahaannya.

Sebagai gambaran, MDLN melaporkan penurunan kas menjadi Rp 180 Miliar pada akhir Maret 2020, dari Rp 554 Miliar pada akhir 2019, karena perusahaan menghadapi kesulitan penjualan properti dan penagih piutang masa lalu.

Fitch meyakini bahwa penjualan MDLN pun akan melemah pada kuartal II/2020 karena kondisi ekonomi yang memburuk dipicu oleh pandemi Covid-19 dan pembatasan sosial berskala besar yang diberlakukan pemerintah pada bulan April dan Mei.

Peringkat ‘RD’ sebelumnya menunjukkan bahwa perseroan kemungkinan mengalami default kendati kegiatan operasional perseroan belum berhenti.

Namun, MDLN sebelumnya mengumumkan pada 14 Juli 2020 bahwa pihaknya sudah mencapai kesepakatan dengan pemegang obligasi atas proposal restrukturasinya.

Dalam rapat tersebut diambil kesepakatan bahwa restrukturisasi mencakup perpanjangan masa jatuh tempo hingga 7 Juli 2021 dan penurunan tingkat bunga menjadi 10% dari 12,5% yang dianggap Fitch sebagai upaya menghindari risiko gagal bayar.