International Investor Club – Harga obligasi (bond) rupiah milik pemerintah Indonesia pada awal pekan ini telah bergerak variatif merespons beragam sentimen mulai dari kandidat vaksin Covid-19 hingga pelemahan rupiah yang cukup tajam terhadap dolar AS.

Baca Juga: Jatuh Tempo Obligasi MDLN Diperpanjang, Lalu Bagaimana?

Obligasi Bergerak Variatif

Obligasi Bond

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, kemarin, investor telah mencermati kabar menggembirakan terkait vaksin Covid-19, dimana Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga mengkonfirmasi bahwa kandidat vaksin Covid-19 dari Sinovac Biotech sudah tiba di Indonesia dan sekarang dalam proses uji klinis tahap tiga di Bio Farma.

Dalam konferensi pers virtual, Arya mengungkapkan:

“Kami memang berharap nanti setelah selesai uji klinis dan dites maka bisa diproduksi juga di Indonesia. Beberapa negara memang mengajak kita kerja sama.”

Sementara pelemahan nilai tukar rupiah yang sebesar 0,62% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di perdagangan pasar spot hari ini, setelah merosot 1,81% pada pekan lalu, memberikan sisi buruk bagi kinerja obligasi RI.

Sentimen negatif lain yang bikin investor ragu berasal dari dalam negeri, yakni tingginya angka infeksi virus corona di dalam negeri yang telah menyalip China sejak akhir pekan lalu.

Dan kemarin, per pukul 12.00 WIB kasus positif di Indonesia mencapai 88.214 orang bertmbah 1.693 orang, sedangkan di Negeri Tirai Bambu mencapai 83.682 hanya bertambah 22 orang.

Baca Juga: TRIO Berpotensi Dipaksa Delisting Dari Bursa, Kenapa?

Kekhawatiran Lockdown

Lockdown
Mediasulsel (doc.)

Hal diatas memicu kekhawatiran bahwa karantina wilayah (lockdown) bakal kembali diberlakukan di kota-kota besar yang menjadi pusat perniagaan dan bisnis, dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Akibatnya, investor pun melakukan aksi jual.

Data Refinitiv menunjukkan penguatan harga surat utang negara (SUN) tercermin dari dua seri acuan (benchmark). Kedua seri tersebut adalah FR0081 bertenor 5 tahun dan FR0083 bertenor 20 tahun, sementara FR0082 bertenor 10 tahun dan FR0080 bertenor 15 tahun justru melemah.

Seri acuan yang paling menguat hari ini adalah FR0083 yang bertenor 20 tahun dengan penurunanyield 1,30 basis poin (bps) menjadi 7,548%, sementara yang paling melemah yaitu seri FR0082 yang bertenor 10 tahun dengan kenaikan yield 1,80 bps. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya.

Yield menjadi acuan keuntungan investor di pasar surat utang dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.