International Investor Club – Harga saham dua anak usaha PT Bio Farma (Persero) terbang usai vaksin corona dari China masuk ke Indonesia untuk menjalani uji klinis tahap III oleh BUMN tersebut. Apabila uji klinis lancar, Bio Farma menargetkan produksi vaksin buatan Sinovac itu pada kuartal I 2021.

Baca Juga: Saham Farmasi Diborong Asing, Kenapa Ya?

Bio Farma

Bio Farma
Tempo (doc.)

Dilansir dari RTI Infokom, pada perdagangan sesi pertama Selasa kemarin (21 Juli), saham PT Indofarma Tbk (INAF) melesat 24,9% dari posisi buka di 1.220 menjadi 1.505. Investor asing tercatat telah memborong sebesar Rp 468,4 Miliar.

Sepanjang hari investor membukukan transaksi sebesar Rp 138,37 Miliar dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 96,15 juta saham.

Selain itu juga, anak usaha Biofarma lainnya, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) naik 24,36% pada perdagangan kemarin dari posisi bukanya 1.400 menjadi 1.710.

Investor membukukan transaksi sebesar Rp 378,56 Miliar dengan jumlah saham yang diperdagangakan sebanyak 378,56 juta saham. Perusahaan mencatatkan jual bersih sebesar Rp 994,47 hari ini.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyatakan Bio Farma sedang menjalani uji klinis tahap ketiga. Diharapkan, setelah lolos hasil uji klinis tersebut, vaksin Sinovac dapat segera diproduksi di dalam negeri.

Dalam sajian berita CNN Indonesia, Arya mengungkapkan:

“Bio Farma di kalangan internasional, di dunia vaksin memang sangat terkenal dan dianggap mampu membuat dan melakukan uji klinis. Sangat mampu.”

Baca Juga: Resesi Membayangi Indonesia, Aman Berinvestasi di Instrumen Ini

Sentimen dari Vaksin

Kompas (doc.)

Arya menuturkan beberapa negara mengajak BUMN kesehatan itu untuk bekerja sama. Dalam sajian berita CNN Indonesia, ia mengungkapkan:

“Jangan heran, memang Bio Farma dipercaya beberapa negara untuk diikutsertakan.”

Ia juga menambahkan bahwa vaksin yang diterima Indonesia akan berbeda dengan vaksin-vaksin lainnya. Ia pun berujar:

“Vaksin Sinovac ini agak berbeda, bisa juga untuk beberapa jenis virus corona yang berkembang. Jadi dicoba di China juga sekarang. Ini lagi dalam proses percobaan.”