SBN dan BI

International Investor Club – Pasar modal nasional sepekan ini kompak menguat beriringan dengan penguatan rupiah, di tengah ekspektasi pengembangan vaksin anti Covid-19 dan efektifnya kebijakan helikopter uang.

Baca Juga: Obligasi Pemerintah Menguat Karena Sentimen Vaksin Corona

SBN dan Pasar Saham

SBN

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan yang ditutup ambles 1,2% ke level 5.082,991.

Namun secara mingguan, IHSG terhitung masih menguat tipis 0,07% jika dibandingkan dengan posisi akhir pekan lalu di level 5.079,585.

Sementara itu, pasar obligasi sukses menguat yang terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi bertenor 10 tahun yang menjadi acuan (benchmark) di pasar.

Imbal hasil surat utang seri FR0082 ini turun 8,96% poin hingga menembus level psikologis 6%, yakni di 6,909%.

Imbal hasil bergerak berkebalikan dari harga obligasi, sehingga kenaikan imbal hasil tersebut mengindikasikan koreksi harga.

BAGAN
CNBC Indonesia (doc.)

Penguatan pasar obligasi terjadi setelah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) memulai konsep burden sharing perekonomian guna mempercepat pemulihan ekonomi yang tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB).

Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Jouska Membeli Saham LUCK

Aksi BI

Mulai akhir Juli ini, atau pekan depan, BI bakal membeli Surat Berharga Negara (SBN) melalui mekanisme private placement dengan tenor 5 hingga 8 tahun. Tenor ini lebih singkat dari tenor awal yang dikatakan Menkeu Sri Mulyani Indrawati sebelumnya, yakni selama 10 tahun.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia, Luky Alfirman, Direktur Jenderal PPR Kementerian Keuangan mengungkapkan:

“SKB dengan BI, kita di atas 5 tahun sampai 8 tahun untuk tenornya. Kita bahas sedemikian rupa, kita sepakat dengan BI tenornya yang 5 tahun-8 tahun.”

Pembelian SBN oleh BI ini bakal memperkuat sisi permintaan, sehingga secara psikologis investor berekspektasi harga surat utang pemerntah di pasar bakal menguat. Mereka pun membeli SBN untuk kepentingan trading jangka pendek yang mengangkat harga SBN pekan ini.

Di pasar saham, pelaku pasar sepekan ini lebih resisten dari tekanan bursa global di tengah kenaikan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Koreksi di hari terakhir perdagangan pekan kemarin, masih lebih kecil dari reli Selasa sebesar 1,3% menyambut datangnya kandidat vaksin produksi Sinovac Biotech untuk uji tahap ketiga bersama PT Bio Farma.

Meski IHSG terhitung menguat selama sepekan, investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp 973,2 Miliar.