International Investor Club – Perbincangan pelaku pasar saham dalam minggu ini tidak lepas dari fenomena terbangnya harga saham farmasi. Banyak pertanyaan apakah kenaikan tersebut benar-benar didukung oleh sentimen obat corona virus (Covid-19) atau karena ada unsur “goreng-menggoreng” saham (bandar).

Dalam sepekan perdagangan harga emiten farmasi PT Indofarma Tbk (INAF) dan dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) meroket lebih dari dua kali lipat dan mengalami auto reject atas (ARA) hingga 2-3 kali. Kenaikan kedua saham ini memicu pergerakan saham farmasi lainnya.

Baca Juga: BEI Ingin Membuat Papan untuk Saham Gocap, Kenapa Ya?

Saham Farmasi

Saham Farmasi
Kompas (doc.)

Dalam sajian berita Investor.Id dijabarkan, sepanjang perdagangan sepekan (20–24 Juli), harga INAF naik 130, 97% dari posisi Rp 1130 pada Senin dan ditutup pada level Rp 2.610 pada perdagangan Jumat. Nasib bagus juga dialami saudaranya KAEF, naik 112,4% dari posisi awal pekan Rp 1.290 menjadi Rp 2.740 pada akhir pekan ini.

Sentimen vaksin Covid-19 yang sedang diuji klinis oleh Biofarma bekerjasama dengan perusahaan Tiongkok Sinovax, ikut mendorong kenaikan saham PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. (DVLA), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), PT Merck (MERK), PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC) dan PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA).

Menurut mantan Direktur PT Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud, kenaikan fantastis harga saham-saham farmasi tidak bisa serta merta dinilai sebagai hasil goreng-menggoreng saham. Ia mengungkapkan:

“Itu bisa saja dipicu oleh sentimen masuknya vaksin Covid-19 dari Tiongkok untuk diuji oleh Biofarma dan INAF serta KAEF akan menjadi distributor.”

Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Jouska Membeli Saham LUCK

Over Reaksi

ITTG saham

Ia menegaskan, pasar selalu over reaksinya sehingga dalam bursa selalu ada circuit breaker. Tetapi pelan-pelan pasar akan melakukan koreksi jika secara teknikal harga saham sudah dianggap terlalu tinggi.

Dalam sajian berita Investor.Id dijabarkan, Hasan menegaskan bahwa membeli saham adalah membeli prospek. Pasar bisa saja menilai INAF dan KAEF akan mendapat untung besar jika vaksin telah berhasil diuji coba kemudian didistribusikan kepada ratusan juta masyarakat Indonesia.

“Kita harus jeli menganalisanya agar tidak salah membuat keputusan.”

Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Komunitas Investa, Hari Prabowo. Investor, kata dia, melihat prospek meskipun raport INAF dan KAEF kurang begitu menarik pada kuartal sebelumnya.

Dalam pandangan saya pribadi, pergerakan beberapa hari ini masih belum bisa dijadikan acuan dari gambaran kekuatan fundamental karena laporan keuangan terbaru masih perlu ditunggu dan dilihat agar lebih mudah membaca apakah ini hanya sekedar Hype, Bandar, atau justru karena prospek perusahaan farmasi ini memang benar baik adanya.