IHSG

International Investor Club – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sentimen pasar modal di Indonesia sudah mengalami perbaikan selama dua pekan terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu mempertahankan posisi di atas level 5.000 setelah sempat menyentuh titik terendah di bawah 4.000 pada Maret 2020.

Baca Juga: BBHI Kian Tertekan, Apa Penyebabnya Ya?

IHSG Ditopang Investor Domestik

IHSG

Dalam sajian berita Medcom, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, dalam telekonferensi di Jakarta mengungkapkan:

“Dapat kami sampaikan bahwa sentimen positif di pasar modal sudah mulai terjadi. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.”

Menurut Wimboh penguatan pasar modal ini lebih didorong oleh investor domestik, khususnya investor ritel. Sementara investor asing (nonresiden) di pasar saham masih mencatatkan aksi jual (net buy).

“Non residen di pasar saham tercatat melakukan net buy sebesar Rp 1,5 triliun. Sementara akhir Juli pasar saham net buying sebesar Rp 5,06 triliun.”

Secara keseluruhan pada Juli 2020, dana di pasar saham tercatat keluar (outflow) sebanyak Rp 3,85 Triliun. Di sisi lain investor asing justru berebut Surat Berharga Negara (SBN), dengan inflow (dana mengalir masuk) di portofolio ini pada Juli 2020 sebanyak Rp 5,02 Triliun.

Adapun IHSG pada akhir Juli 2020 berada di level 5.149,63 atau mengalami kenaikan 4,98 persen secara month to month (mtm). Pertumbuhan ini lebih baik ketimbang level IHSG pada Juni 2020 di 4.905,4 atau naik 3,19 persen (mtm).

Baca Juga: WSBP Disuspensi Karena Gagal Bayar Bunga Obligasi

Indeks Saham

IHSG Indonesia

Namun demikian, aku Wimboh, IHSG kembali terpuruk di awal Agustus 2020. Level IHSG pada Senin, 3 Agustus 2020, berada di 5.006,22 atau turun sebanyak 2,78 persen secara month to date (mtd) dan minus sebesar 20,5 persen year to date (ytd).

Dalam sajian berita Medcom, Wimboh mengungkapkan:

“Dapat kami sampaikan bahwa indeks turun menjadi 5.006, turun cukup drastis dalam waktu sehari kemarin. Ini karena adanya rilis data deflasi dan wait and see dari investor atas data PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia di kuartal II-2020.”

Namun perlu dicatat, kondisi global dan bayang-bayang resesi masih perlu untuk diantisipasi dan dipersiapkan, sehingga lebih cermatlah dalam mengatur porsi dalam tiap investasi yang ingin dilakukan.