Jiwasraya

International Investor Club – Sebanyak empat emiten yang sahamnya bersamaan dihentikan sementara (suspensi) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 23 Januari 2020, yang berkaitan dengan pemeriksaan awal kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) kini di ambang ancaman penghapusan saham paksa (force delisting) oleh otoritas bursa.

Baca Juga: TRAM akan Delisting dari Bursa Karena Tercatut Kasus Jiwasraya!

Emiten Terancam Delisting Karena Kasus Jiwasraya

BEI - delisting saham Emiten

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, keempat emiten tersebut adalah perusahaan tambang mineral PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), perusahaan ikan arwana PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP), emiten properti PT Hanson International Tbk (MYRX), dan emiten pertambangan PT SMR Utama Tbk (SMRU).

Satu emiten yang juga disuspensi saat itu yakni PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP) baru-baru ini sudah menyampaikan upaya perbaikan perusahaan kepada BEI pada 30 Juli lalu.

TRAM

Berdasarkan Pengumuman Potensi Delisting yang dipublikasikan pada 4 Agustus 2020, BEI menegaskan saham TRAM telah disuspensi selama 6 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada 23 Januari 2022.

Sebagaimana Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di BEI, Bursa dapat menghapus saham perusahaan tercatat apabila:

  1. Mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat, baik secara finansial atau secara hukum, atau terhadap kelangsungan status perusahaan tercatat sebagai perusahaan terbuka, dan perusahaan tercatat tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai. Ini sesuai dengan Ketentuan III.3.1.1.
  2. Saham perusahaan tercatat yang akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir. Ini sesuai dengan Ketentuan III.3.1.2.

IIKP

Selain TRAM, saham IIKP juga berpotensi delisting paksa. “Sehubungan dengan hal tersebut di atas [aturan yang sama dengan pengumuman TRAM], maka dapat kami sampaikan bahwa saham IIKP telah disuspensi selama 6 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 23 Januari 2022,” tulis pengumuman BEI.

Berdasarkan laporan pemegang efek per 30 Juni 2020, Komisaris Utama IIKP yakni Heru Hidayat. Sementara pemegang saham perusahaan yakni PT Maxima Agro Industri sebesar 6,30%, PT Asabri (Persero) 12,32%, dan investor publik 81,38%. BEI pun menuliskan:

“Bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap IIKP, dapat menghubungi Bapak Akbar dengan nomor telepon (021) 250-6788 selaku Sekretaris Perusahaan. Bursa meminta kepada publik untuk memperhatikan dan mencermati segala bentuk informasi yang disampaikan oleh perseroan.”

Emiten yang fokus pada pengembangbiakan dan penjualan ikan arwana ini merupakan perusahaan milik Heru Hidayat. Inti Agri Resources sebelumnya bernama Inti Kapuas Arowana. Perusahaan ini didirikan tanggal 16 Maret 1999 dengan nama PT Inti Indah Karya Plasindo dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1999 sebagaimana disebut dalam profil perusahaan.

Baca Juga: BBHI Kian Tertekan, Apa Penyebabnya Ya?

Jiwasraya
Keterkaitan Kasus Jiwasraya

SMRU

Saham SMRU juga berpotensi didepak paksa dari papan perdagangan. “Saham SMRU telah disuspensi selama 6 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada 23 Januari 2022m,” tulis BEI.

“Bagi pihak yang berkepentingan terhadap SMRU, dapat menghubungi Bapak Arief Novaldi dengan nomor telepon 021-29308835 selaku Sekretaris Perusahaan. Bursa meminta kepada publik untuk memperhatikan dan mencermati segala bentuk informasi yang disampaikan oleh perseroan,” tulis BEI.

Mengacu data per 30 Juni, pemegang saham SMRU yakni Trada Alam Minera sebesar 52,390%, PT Asabri (Persero) 8,11%, dan investor publik 39,59%.

MYRX

Saham MYRX juga berpotensi delisting, bahkan informasi potensi delisting ini sudah disampaikan lebih dahulu oleh BEI pada 16 Juli silam. BEI menuliskan:

“Dapat kami sampaikan bahwa saham MYRX telah disuspensi selama 6 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 16 Januari 2022.”

“Bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap Perseroan, dapat menghubungi Bapak Rony Agung Suseno dengan nomor telepon (021) 521-3555 selaku Sekretaris Perusahaan. Bursa meminta kepada publik untuk memperhatikan dan mencermati segala bentuk informasi yang disampaikan oleh Perseroan,” tulis BEI.

Pemegang saham MYRX per 31 Desember 2019 adalah PT Asabri (Persero) 5,40%, Benny Tjokrosaputro 4,25%, dan investor publik 90,35%. Benny Tjokrosapputro saat itu masih menjabat Komisaris Utama.

Kasus Jiwasraya

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono Widodo membenarkan, penghentian sementara perdagangan saham itu menindaklanjuti proses pemeriksaan yang sedang dilakukan oleh otoritas terkait.