International Investor Club – Emiten di sektor properti menjadi salah satu sektor yang paling berat terpukul efek pandemi Covid-19. Tidak hanya mengalami penurunan pendapatan yang sangat tajam, emiten di sektor properti juga mengalami risiko gagal bayar yang tinggi hingga gugatan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

Baca Juga: Jiwasraya, Ternyata Ada Pinjam-meminjam Akun Saham, Ngeri Kali!

Bagaimana Saham Properti?

sinarmas properti

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, sampai saat ini ada beberapa emiten yang sudah terkena gugatan pailit, seperti baru-baru ini yang dialami PT Sentul City Tbk (BKSL) yang digugat pailit oleh keluarga Bintoro terkait Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) kavling.

Tak hanya Sentul City, beberapa emiten yang juga digugat kepailitan adalah PT Cowell Development Tbk (COWL), PT Hanson International Tbk (MYRX), dan PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY).

Menurut Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan, emiten di sektor properti sangat terdampak dari sisi likuiditas karena mengalami masalah dari sisi kas operasional, sedangkan di saat seperti ini, perbankan sangat berhati-hati menyalurkan kredit.

Inilah yang menyebabkan emiten properti kesulitan memenuhi kewajibannya. Terlebih lagi, kebanyakan emiten di sektor ini mengandalkan pinjaman untuk membangun proyek-proyek baru.

Dalam sajian berita CNBC, Alfred mengungkapkan:

“Kondisi yang terjadi bisa menyebabkan perusahaan mengalami krisis karena faktor tidak adanya fasilitas pendanaan.”

Baca Juga: Inilah Investor Asing yang Lepas Saham TOWR Rp 1,7 Triliun!

Hambatan

Properti

Atas kondisi tersebut, kata Alfred, investor harus lebih cermat lagi dalam berinvestasi di sektor ini dengan memperhatikan fundamental perusahaan.

Jika gugatan kepailitan akan berisiko terhadap kelangsungan bisnis emiten tersebut, maka cut loss atau menghentikan kerugian dengan keluar dari saham-saham properti bisa menjadi opsi untuk memitigasi risiko penurunan lebih lanjut.

Namun, jika perusahaan tersebut masih memiliki prospek yang baik dan gugatan kepailitan bisa diselesaikan, maka opsi hold bisa jadi pilihan investor.

Dalam sajian berita CNBC Indonesia, Alfred pun mengungkapkan:

“Tapi jika kondisi aset, ekuitas perusahaan tidak bagus, ini perlu hati hati, pilihan¬†cut loss¬†sebagai upaya untuk memitigasi risiko yang lebih besar bisa jadi pilihan.”

Sebelumnya, Fitch Ratings menurunkan peringkat dua perusahaan properti Tanah Air yang dikenal memiliki proyek-proyek prestisius. Keduanya yakni PT Agung Podomoro Tbk (APLN) dan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI).

Berdasarkan keterangan resmi, Fitch Ratings menurunkan peringkat perusahaan Agung Podomoro untuk penerbitan utang jangka panjang dalam mata uang rupiah menjadi C dari CCC-.

Pada saat yang sama Fitch juga menempatkan obligasi senilai $ 300 Juta yang jatuh tempo pada 2024 ke Rating Watch Negative (RWN).