Pandemi dan Investor Asing

International Investor Club – Aksi jual investor asing (Net Sell) masihlah tidak terbendung. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan terus mencatatkan net sell di setiap periode hingga sejak awal tahun terakumulasi $ 1,58 Miliar.

Baca Juga: Warren Buffett Kini Investasi Emas, Bagaimana Pandangannya?

Investor Asing Keluar karena Pandemi

Investor Asing Obligasi
Pasardana ID (doc.)

Pandemi Covid-19 masih menjadi faktor utama perginya investor asing dari bursa saham dalam negeri. Pengujian vaksin tahap ketiga oleh Bio Farma memang memberikan secercah harapan.

Dalam sajian berita Kontan, Nico Laurens, Head of Research Panin Sekuritas, mengungkapkan:

“Tapi negara yang kurva kasus barunya masih terus meningkat mengalami tren yang sama.”

Sebut saja Brazil yang pada 22 Agustus kemarin tercatat ada penambahan 19.677 kasus baru Covid-19 menjadi 50.032 kasus.

Selama sepekan terakhir, bursa saham negeri samba ini memang mengalami net buy $ 198,5 Juta. Namun, selama satu kuartal belakangan ini masih net sell $ 1,06 Miliar. Jika diakumulasi sejak awal tahun bahkan mencapai $ 17,58 Miliar.

China tak lagi mencatat kasus baru sepekan terakhir. Sempat ada 22 kasus baru akhir pekan kemarin, namun ini merupakan kasus impor.

Sejalan dengan hal tersebut, bursa saham China mencatatkan net buy $ 78,03 Miliar satu kuartal terakhir. Akumulasinya sejak awal tahun sebesar $ 47,05 Miliar.

Head of Equity Research Ekuator Swarna Sekuritas mengatakan bahwa risiko Covid-19 masih tinggi. Kurva kasus yang seharusnya naik untuk kemudian turun justru cenderung stabil di Indonesia.

“Kemungkinan pelaku pasar juga masih wait and see respon pemerintah hingga pandemi bisa teratasi.”

Baca Juga: Jouska Lagi! Gara-gara Kejar Fee atau Sekuritas yang Nakal Ya?

Seputar Saham

ITTG saham
CNBC Indonesia (doc.)

Nico menambahkan, posisi investor asing saat ini digantikan oleh besarnya dana investor domestik yang masuk. Meski begitu, investor tetap disarankan untuk defensif.

“Alokasi untuk equity cukup 40% hingga 60%.”

Disisi lain, sebelumnya diberitakan, PT Indolife Pensiontama telah melepas seluruh saham PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk. (ULTJ) menarik perhatian pelaku pasar modal.

Pasalnya, transaksi pelepasan saham ULTJ ini membuat rata-rata transaksi di Bursa Efek Indonesia pada Kamis lalu (13 Agustus) melonjak menjadi dua digit tepatnya Rp 10,6 Triliun. Di atas kondisi saat pandemi yang saat ini bergerak dalam rentang Rp 8 Triliun hingga Rp 9 Triliun lebih.

Dalam sajian berita Bisniscom dijabarkan, total transaksi pelepasan saham ULTJ sendiri oleh Indolife tercatat Rp 2,08 Triliun. Sekuritas yang bertindak menjual saham yang dikendalikan Grup Salim itu adalah Shinhan Sekuritas Indonesia (kode broker AH). Transksi dilakukan sebanyak 79 kali.